kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.015,98   -4,21   -0.41%
  • EMAS930.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Potensi Bisnis di Era Milenial & Generasi Z


Rabu, 27 Januari 2021 / 09:48 WIB
Potensi Bisnis di Era Milenial & Generasi Z
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Hasil Sensus Penduduk 2020 menegaskan bahwa dominasi kependudukan di Indonesia adalah generasi milenial dan generasi Z. Tentu ada konsekuensi yang tidak bisa dihindari dari temuan ini. Misal semakin populernya transaksi digital dan interaksi online.

Jika dicermati dampak kehadiran generasi milenial dan generasi Z memberikan era baru dalam semua model layanan transaksi, terutama yang berbasis digital dan online. Sehingga pandemi dalam setahun terakhir secara tidak langsung berdampak positif bagi transformasi keperilakuan masyarakat. Yakni terpaksa memanfaatkan layanan berbasis digital.

Situasinya tentu sangat berbeda antara kelompok yang sudah melek teknologi dan yang belum. Kelompok yang belum ini perlu edukasi dan inilah dampak positif pandemi. Sementara ada realitas di era kekinian tentang kehadiran generasi milenial dan generasi Z.

Jika kita mencermati, terlepas akibat pandemi, kita telah masuk era digitalisasi. Realitas digital sebagai bagian dari perkembangan industri 4.0 yang didukung teknologi 5G, menjadi isu penting. Perkembangan teknologi menjadi pembahasan di forum Pertemuan Menteri Ekonomi Asean ke-51 di Bangkok 3-11 September 2019 silam. Maka, semua harus berubah - berbenah dalam mensikapi perubahan transformasi perilaku.

Relevan dengan pesatnya ekonomi digital maka salah satunya yang tidak bisa diabaikan adalah eksistensi uang digital. Bagaimanapun juga uang virtual dengan berbagai model telah menjadi bagian dari ritme kehidupan ekonomi kekinian. Setidaknya, era transaksi dengan QR code juga mulai perlahan diterima publik.

Dompet digital juga telah mampu menembus sejumlah transaksi jual maupun beli. Sistem ini juga diterima oleh masyarakat. Uang secara fisik di era mendatang mungkin akan ditinggalkan dan transaksi dengan gesek atau klik akan menjadi e-lifestyle.

Era ekonomi digital mengharuskan produsen dan konsumen berubah perilakunya. Inilah yang disebut inovasi dan diyakini yang tidak bisa melakukan inovasi akan mati sehingga inovasi menjadi pilihan riil untuk bersaing dan berdaya saing tinggi.

Oleh karena itu kehadiran generasi milenial dan generasi Z secara tidak langsung justru memacu tuntutan modernitas layanan berbasis digitalisasi. Tentu ini membutuhkan kesiapan dan investasi yang tidak murah bagi pelaku usaha-bisnis. Digitalisasi layanan perbankan, misal e-banking membutuhkan investasi yang tidak murah. Tapi ke depan semakin sedikit kebutuhan pembukaan kantor cabang.

Proses panjang dari peran uang akhirnya juga bergeser ketika transaksi tidak lagi offline namun juga online secara virtual. Fenomena ini juga didukung oleh perkembangan internet sehingga kita hidup di era global information society. Dan perilaku transaksi telah didukung dengan fenomena cashless society karena semua transaksi dilakukan dengan sekali klik.

Akibatnya kebutuhan terhadap digitalisasi uang semakin mutlak. Orang pun butuh uang virtual yang berbeda dengan uang secara fisik yang telah kita transaksikan selama ini. Tentu tidak mudah untuk bisa memulai penggunaan uang virtual atau digital. Namun seiring dengan perkembangan era digital maka interaksi riil antara permintaan dan penawaran akhirnya memunculkan uang digital.

Jadi perlu ada edukasi secara sistematis dan berkelanjutan kepada publik untuk secara perlahan meninggalkan transaksi offline dan beralih ke modernitas layanan online atau digital. Artinya, kehadiran generasi milenial dan generasi Z dalam struktur kependudukan di Indonesia memberikan harapan beralih dari transaksi tradisional atau offline ke layanan modern online atau digital.

Harapan ini didukung revolusi industri 4.0 dan kecepatan akses 5G. Apalagi tarif semakin murah sementara kecepatan akses semakin tinggi untuk mendukung layanan 24 jam real time tanpa mengenal jeda ruang dan waktu.

Kebutuhan uang digital

Persoalan juga muncul ketika value dari uang digital itu sendiri harus memberikan arti, terutama bagi pemilik, penjual dan pembeli. Konsekuensi dari transformasi ini secara tidak langsung memunculkan bitcoin sebagai salah satu mata uang digital yang semakin populer saat ini dan sekaligus menjadi cryptocurrency yang paling menarik transaksinya dibanding uang digital lainnya.

Padahal, bitcoin baru dikenalkan pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto. Salah satu aspek mendasar mengapa bitcoin sebagai uang digital yang menarik adalah nilai kapitalisasinya yang saat ini mencapai sekitar US$ 50 miliar. Yang justru menjadi pertanyaan mengapa bitcoin menjadi pilihan utama dari transaksi uang digital di era kekinian?

Logika dari jawaban pertanyaan ini adalah permintaan terhadap uang digital yang semakin tinggi dan bitcoin menjadi salah satu mata uang digital yang paling dipercaya karena reputasinya sangat kuat. Faktor lain yang mendukung daya tarik bitcoin adalah karena peran bitcoin sebagai alcoins atau koin alternatif dalam transaksi global. Bitcoin adalah mata uang digital pertama, relatif mudah diperoleh dan diterima secara luas.

Adopsi terhadap bitcoin sebagai uang digital relatif cepat kuat, termasuk juga aspek keamanan Bitcoin sebagai uang digital lebih terjamin. Terkait ini, tidak dapat dipungkiri generasi milenial dan generasi Z semakin familier dengan bitcoin dan semua mata uang digital lainnya sebagai salah satu alat pembayaran dan transaksi.

Lalu, bagaimana dari keberadaan Farad sebagai uang digital? Apakah bisa diterima oleh pasar? Tentu tidak mudah untuk menjawabnya karena Farad harus terbukti - teruji oleh pasar, terutama dalam transaksi virtual.

Paling tidak, Farad sebagai mata uang digital harus mampu meyakinkan dirinya dibanding mata uang digital lainnya yang terlebih dulu telah eksis misalnya Dash, Ethereum, Litecoin, Monero, Ripple, Zcash, Dogecoin, MaidSafeCoin, Lisk, Storjoin X, dan lainnya. Selain itu, bagaimana pasar merespons semua uang digital juga akan ditentukan dengan kekuatan tawar menawar dalam bentuk permintaan - penawaran yang sekaligus akan menentukan nilai tukar uang digital.

Fakta ini menjadi bukti adanya transformasi keperilakuan dalam penggunaan mata uang, dari model barter ke model fisik dan kini ke bentuk uang digital yang bersifat online-virtual. Selaras dengan hal tersebut maka pembahasan tentang ekonomi digital pasca dominasi dari generasi milenial dan generasi Z menjadi penting dan diharapkan menjawab tantangan kedepan.

Artinya, masyarakat digital sebenarnya sudah di depan mata meski saat ini terempas oleh virus korona yang kemudian memaksa masyarakat harus menggunakannya. Setidaknya ini adalah awal era digital sehingga semua tinggal klik dan gesek untuk semua layanan dan transaksi secara real time tanpa mengenal jeda ruang dan waktu selama 24 jam sehari.

Penulis : Edy Purwo Saputro

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era The Science of Sales Management

[X]
×