Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.185
  • SUN95,68 0,05%
  • EMAS667.500 0,15%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Potensi digital

Senin, 11 Maret 2019 / 15:00 WIB

Potensi digital

Potensi ekonomi digital di negeri ini tentu sudah menjadi rahasia umum. Kita sudah sering mendengar masih luasnya peluang bisnis yang terkait dengan ekonomi digital sejak, paling tidak, lima tahun silam.

Selama periode itu pula, kita menyaksikan perusahaan teknologi informasi lokal bertumbuh hingga mencapai status unicorn. Contoh perusahaan teknologi yang memiliki valuasi sedikitnya US$ 1 miliar itu adalah Gojek, Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka.

Di luar kelompok itu, masih ada beberapa perusahaan yang juga terbilang besar. Mereka menawarkan platform layanan yang beragam, mulai perdagangan, pembayaran hingga hiburan.

Jadi, banyak yang sudah mengendus potensi ekonomi digital di sini. Itu terlihat dari kian berkembangnya layanan yang ditawarkan. Ambil contoh pembayaran. Saat ini, platform pembayaran berbasis teknologi QR code lazim ada di menu penyedia aplikasi pembayaran. Lima-enam tahun silam, kendati QR Code sudah muncul, sangat sedikit yang menawarkan pembayaran berbasis teknologi tersebut.

Melihat pemain di masa kini yang tak lagi sedikit, apakah potensi ekonomi digital di Indonesia masih tetap menarik? Jika kontribusi ekonomi digital terhadap produk domestik bruto (PDB) yang jadi ukuran, maka jawabnya adalah ya.

Kontribusi ekonomi digital di Asia Tenggara baru 7% terhadap produk domestik bruto. Angka itu masih jauh di bawah China, yang mencapai 16%, apalagi AS yang sudah 35%.

Patut menjadi catatan, rasio kontribusi ini juga yang menjadi alasan banyak pengamat untuk menyebut potensi pasar ekonomi digital. Lalu, apa yang menyebabkan ekonomi digital gagal tancap gas dalam perekonomian kita?

Penyebabnya ternyata juga, ya, itu-itu saja. Infrastruktur yang kurang dan minat masyarakat golongan senior yang rendah terhadap internet. Penyebab pertama itu juga memunculkan kendala ketiga, yaitu terbatasnya akses masyarakat dengan pendapatan pas-pasan hingga kurang ke internet.

Kendala itu tentu butuh waktu untuk benar-benar lenyap. Artinya? Bagi Anda yang masih punya mimpi besar di bisnis digital, tak perlu kecil hati tidak kebagian porsi.

Statistik ekonomi menunjukkan ekonomi digital masih jauh dari tahap matang. Itu artinya, pemain kelas berat di masa kini, bisa saja tergelincir dalam satu-dua tahun mendatang, dan tergantikan oleh pemain baru.♦

Thomas Hadiwinata


Reporter: Thomas Hadiwinata
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0039 || diagnostic_api_kanan = 0.0851 || diagnostic_web = 1.9316

Close [X]
×