kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.163
  • SUN95,28 0,51%
  • EMAS661.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.08%
  • RD.CAMPURAN 0.07%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.06%

Problem likuiditas perbankan syariah 2019

Jumat, 11 Januari 2019 / 18:39 WIB

Problem likuiditas perbankan syariah 2019


Agenda bank syariah

Oleh karena itu, bank syariah harus berfokus mengantisipasi datangnya risiko likuiditas. Yakni risiko akibat ketidakmampuan bank syariah untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan. Pengelolaan risiko tersebut tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank.

Agar mampu mengelola manajemen risiko likuiditas, seluruh bank syariah harus mampu mengelola secara ketat komposisi dan konsentrasi dari aset dan kewajiban serta kerentanan bank syariah pada kebutuhan pendanaan. Selain itu, bank syariah harus memiliki kemampuan dalam memperoleh sumber-sumber pendanaan pada kondisi normal maupun krisis.

Berpijak dari uraian di atas, maka bank syariah perlu melaksanakan beberapa strategi untuk menghadapi hal tersebut. Seperti dengan memperbaiki finance to deposit ratio (FDR). Strategi lainnya adalah tidak hanya mengandalkan dana pihak ketiga (DPK) tapi juga menerbitkan sukuk ataupun menambah modal dari induk.

Seluruh bank syariah harus fokus pada faktor utama yang memengaruhi likuiditas bank syariah, agar memperbaiki FDR ini. Yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah karakteristik penabung, kondisi ekonomi dan moneter serta persaingan antar lembaga keuangan. Adapun faktor internal yakni manajemen risiko likuiditas, pengelolaan likuiditas, perencanaan likuiditas serta strategi pengelolaan likuiditas.

Nah, sebagai antisipasi dan mengatasi persoalan likuiditas yang bisa menggangu jalannya roda bisnis perbankan syariah, maka perbankan syariah harus memperhatikan beberapa hal. Pertama, menggiatkan sosialisasi bank islam dengan menjelaskan aspek ekonomi dan sistem nilai keislaman kepada masyarakat.

Melalui langkah ini ada tambahan nasabah bank syariah yang ujungnya adalah peningkatkan dana baru yang bisa sebagai instrumen untuk meningkatkan ekspansi bisnis. Deposan diharapkan juga tidak terpengaruh dengan return yang tinggi yang ditawarkan bank konvensional.

Kedua, memperkuat koordinasi, komunikasi dan pengertian dengan deposan atau investor dan partner bisnis. Sekaligus mengidentifikasi berapa banyak deposan rasional yang dimiliki bank dengan mengamati berapa banyak penarikan dan pemindahan dana ke bank konvensional ketika return nya lebih tinggi. Ketiga, mendisain portofolio bank termasuk instrumen likuid.

Akhirnya, risiko likuiditas adalah elemen kunci untuk pengembangan bank syariah. Untuk itu bank syariah harus mencari beragam sumber dana untuk membiayai aktivitas pembiayaan dan investasinya.

Bank syariah juga harus bisa menyediakan beragam sumber dana untuk membayar permintaan pemilik rekening, menyediakan dana committed untuk transaksi musyarakah dan menyediakan arus kas untuk pembayaran biaya lainnya. Dengan cara ini bank syariah bisa lebih baik di 2019.•

Bambang Rianto Rustam
Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0422 || diagnostic_web = 0.3913

Close [X]
×