kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Properti penopang bisnis perbankan


Rabu, 15 Mei 2019 / 10:51 WIB

Properti penopang bisnis perbankan

Pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) serentak pada 17 April 2019 sudah usai. Kepastian politik bakal membangkitkan sektor properti yang merupakan salah satu indikator pertumbuhan sektor riil. Bagaimana bank meraih rezeki dari sektor properti?.

Bagaimana kinerja sektor properti? Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia mencatat bahwa kredit properti tumbuh 16,57% dari Rp 795,56 triliun per Januari 2018 menjadi Rp 927,35 triliun per Januari 2019, yang meliputi kredit konstruksi, realestat, dan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA). Inilah perinciannya. Kredit konstruksi tumbuh tertinggi 24,69% dari Rp 245,48 triliun menjadi Rp 306,08 triliun (dengan kontribusi 33,01% dari total kredit properti).

KPR dan KPA tumbuh 13,53% dari Rp 411,54 triliun menjadi Rp 467,24 triliun. Meskipun pertumbuhan itu lebih rendah daripada kredit konstruksi, tetapi KPR dan KPA berkontribusi tertinggi 50,38%. Kredit real estat tumbuh 11,18% dari Rp 138,54 triliun menjadi Rp 154,03 triliun (kontribusi 16,61%). Inilah rapor sektor properti yang cukup menjanjikan.

Ingat, sektor properti merupakan salah satu indikator pertumbuhan ekonomi nasional suatu negara. Untuk itu, pemerintah terus menggeber agar sektor properti lebih berkembang dengan berbagai stimulus.

Pertama, pemotongan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) dari 5% menjadi 2,5%. Hal ini bertujuan untuk mendorong investor melakukan investasi properti plus investasi di dana investasi real estat (DIRE).

Kedua, melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) Nomor 20/22/PADG/2018, BI telah melakukan relaksasi loan to value (LTV) efektif 1 Agustus 2018. Relaksasi LTV diharapkan menjadi insentif bagi bank, pengembang dan (calon) nasabah.

Relaksasi LTV ini meliputi beberapa butir penting, yakni pembebasan LTV untuk pembelian rumah pertama semua tipe rumah dengan KPR. Rasio LTV untuk rumah kedua dan seterusnya 80%-90% kecuali rumah tipe 21 meter persegi (m) yang bebas LTV. Selain itu, KPR inden dengan maksimal lima fasilitas kredit.

Butir terakhir, penyesuaian aturan tahapan pencairan kredit menjadi maksimal pencairan kumulatif sampai 30% dari plafon setelah akad kredit ditandatangani, 50% dari plafon ketika pondasi selesai, 90% dari plafon ketika atap selesai dan 100% dari plafon ketika penandatanganan serah terima dan akta jual beli (AJB).

Ketiga, program perumahan bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang dibiayai melalui skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Program ini menjadi pengungkit bergairahnya sektor properti. Mengapa demikian? karena KPR FLPP ini menawarkan suku bunga tetap (fixed rates) 5% dengan tenor sampai 20 tahun dengan uang muka 1% dengan jumlah kredit hingga Rp 350 juta.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 0.1590

Close [X]
×