kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Prospek bisnis pelayaran tahun 2018

Senin, 08 Januari 2018 / 13:05 WIB

Prospek bisnis pelayaran tahun 2018



Memasuki tahun baru, dunia usaha memasang kuda-kuda dan bersiap menghadapi dinamika bisnis selama setahun ke depan dengan penuh optimisme. Bisnis pelayaran pastinya tidak luput dari ritual ini. Hanya saja, optimisme sektor pelayaran tidak semarak sektor lainnya karena selama 2017 kondisinya tidak baik-baik amat. Usaha yang satu ini boleh disebut masih bleeding sepanjang tahun lalu meski ada sedikit perbaikan freight, khususnya pelayaran peti kemas.

Sayang, menurut analis pelayaran kelas dunia, Martin Stopford, dalam wawancara dengan sebuah media pelayaran regional tahun lalu, perbaikan freight itu hanyalah sementara dan tidak substansial sifatnya. Terbukti, setelah Hanjin bangkrut tahun 2016, sejumlah pelayaran peti kemas besar lainnya melakukan berbagai cara hanya untuk bertahan hidup. Tiga pemain pelayaran "Liga Jepang", yaitu Mitsui OSK Lines (MOL), Nippon Yusen Kabushiki Kaisha (NYK) dan Kawasaki Kisen Kaisha (K Line) telah membentuk joint venture yang diberi nama Ocean Network Express atau ONE.

Lalu, pelayaran dari negeri Tirai Bambu, China Shipping Container Lines (CSCL) dan China Ocean Shipping Company (COSCO) sudah digabung oleh negara tersebut menjadi satu entitas demi efisiensi. Induk perusahaan ini (COSCO) kemudian mengambil alih (take over) pelayaran peti kemas asal Hong Kong, Orient Overseas Container Lines (OOCL) seharga US$ 6,3 miliar.

Lagi-lagi, saham perusahaan pelayaran milik mantan Kepala Hong Kong SAR, Tung Chee-hwa, ini dilego ke COSCO agar bisa menghentikan kerugian. Menariknya, COSCO sendiri sebetulnya juga merugi.

Dengan alasan yang sama, terjadi pula merger antara perusahaan peti kemas Jerman, Hapag Lloyd, dan United Arab Shipping Company (UASC) yang bermarkas di Kuwait pada 2017. Last but not least, kelamnya bisnis pelayaran peti kemas ditutup dengan bangkrutnya pelayaran STX. Perusahaan Korea Selatan itu terjebak utang dan tidak bisa membayarnya.

Kreditur terpaksa melego. Yang berpeluang besar "membungkus" STX adalah private equity asal negeri Tirai Bambu, AFC. Keterlibatan private equity dalam proses tersebut menunjukkan para pelaku di bidang ini makin banyak melirik bisnis pelayaran. Di sisi lain, perbankan mulai enggan mengucurkan kredit untuk pelayaran menyusul iklim bisnis yang makin tidak kondusif.

Lantas, apa yang membuat bisnis pelayaran peti kemas-sebuah bisnis yang ditaksir  Wall Street Journal bernilai US$ 1 triliun per tahun -berdarah-berdarah? Jawabannya adalah kebijakan konsolidasi yang dilakukan operator pelayaran peti kemas. Kebijakan ini pada akhirnya mematikan diri mereka sendiri.

Melalui konsolidasi di antara mereka pengoperasian kapal (rata-rata berkapasitas lebih dari 18.000 TEU) memang bisa lebih efisien dan menguntungkan. Sebelum konsolidasi, tak jarang di antara mereka berkompetisi sengit.

Tapi di sisi lain, kebijakan itu justru kontraproduktif. Merger bisnis pelayaran peti kemas membuat pasar menjadi oligopolistik yang cenderung tak memberi ruang terhadap kompetisi. Selain itu, jumlah kapal berlebihan.

Di sudut operasional armada, terjadi penataan rute besar-besaran yang berujung penurunan frekuensi  pelayaran ke pelabuhan/terminal tujuan. Lantaran kapal yang dioperasikan semakin bongsor, terjadi pula stres di kalangan pengelola pelabuhan/terminal terkait bagaimana melayani bongkar-muat mereka. Mereka terpaksa investasi alat bongkar muat baru dan menaikkan service charge terminal.


TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.0908 || diagnostic_web = 2.1643

Close [X]
×