kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,14   -3,74   -0.39%
  • EMAS956.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -1.46%
  • RD.CAMPURAN -0.55%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Prospek Industri Transportasi Tahun 2021

oleh Ibrahim Kholilul R dan Aji Putera T - Samudera Indonesia Research Initiative


Jumat, 08 Januari 2021 / 13:31 WIB
Prospek Industri Transportasi Tahun 2021
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Hampir setahun lamanya dunia menghadapi pandemi Covid-19 yang menyebabkan disrupsi terhadap sisi permintaan dan sisi penawaran perdagangan global. Lembaga internasional sudah memberikan early warning system terhadap kemungkinan kontraksi perekonomian yang disebabkan oleh penurunan volume perdagangan. Sebutlah World Trade Organization (WTO) yang sejak kuartal kedua tahun 2020 memprediksi perdagangan global akan turun pada kisaran 13% hingga 32%.

Sejalan dengan proyeksi WTO, The International Monetary Fund (IMF) juga memperkirakan volume perdagangan dunia mengalami penurunan sebesar 10,4%. Kedua proyeksi itupun masih dipengaruhi oleh seberapa lama pandemi ini bisa dikontrol.

Menengok ke belakang, sejak kuartal I-2020, beberapa negara melakukan lockdown untuk fokus terhadap mengurangi risiko pandemi. Kebijakan lockdown tersebut menyebabkan penurunan aktifitas perekonomian yang tidak terelakkan.

The Purchaser Manager Index (PMI) salah satu indeks yang menggambarkan aktifitas sektor riil menunjukkan penurunan tajam pada posisi 23 pada April 2020, angka terendah dalam 10-15 tahun terakhir. Parahnya, pertumbuhan ekonomi 10 negara dunia (G10) mengalami kontraksi sekitar 25% pada kuartal II-2020.

Penurunan aktivitas perekonomian turut berandil dalam penurunan kargo yang kemudian direspon dengan pembatasan operasi Main Line Operators (MLO) dunia. Berdasarkan data Alphaliner (2020), sebelas dari dua belas MLO terbesar mengurangi kapasitas armada secara agregat sebesar 236.000 TEUs pada paruh pertama tahun 2020 akibat rendahnya permintaan kargo.

MLO juga melakukan tindakan blank sailing yang berarti kapal melewati (skip) beberapa atau seluruh pelabuhan atau rute pengiriman untuk menghemat biaya. Data dari Sea Intelligence (2020) menunjukkan ada 150 blank sailings terjadi pada periode bulan Januari hingga Juni 2020 untuk rute Asia-Eropa dan jalur perdagangan transpasifik.

Keputusan blank sailing dari MLO menyebabkan kenaikan containers rollover ratio, yaitu persentase kargo menumpuk di pelabuhan yang seharusnya dikirimkan kembali lewat transshipment atau pengangkutan lanjutan. Sebagai contoh, Singapura, Busan dan Hong Kong sebagai hub utama perdagangan laut di Asia mencatatkan rollover ratio sebesar 30% pada Agustus 2020 atau meningkat tajam dari rasio normal pada kisaran 15%-20%.

Memasuki kuartal II dan kuartal III-2020, China menjadi negara pertama yang berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 dan menunjukkan pemulihan ekonomi dan aktivitas perdagangan. Berdasarkan data the observatory of economic complexity (OEC), nilai ekspor China yang sempat mencapai titik terendah sekitar US$ 70 miliar (Februari 2020) mengalami peningkatan secara tajam dan mencapai lebih dari US$ 200 miliar pada akhir kuartal II-2020.

Selanjutnya pada periode kuartal III-2020, beberapa negara di Asia dan Eropa juga mulai menunjukkan pemulihan aktivitas perekonomian yang memberikan dampak positif terhadap perdagangan dunia. Berdasarkan laporan Maersk Broker Container, pada Juli 2020 terjadi pertumbuhan positif volume kontainer untuk jalur Intra Asia, Timur ke Amerika Utara, dan Asia ke Eropa.

Hal ini menyebabkan terjadi peningkatan dari sisi permintaan kargo yang sayangnya tidak diakomodasi dengan keseimbangan dari sisi penawaran. Ketidaksiapan pelabuhan dan carriers mengakibatkan port congestion, kelangkaan kontainer dan peningkatan biaya angkut atau freight rates secara ekstrem.

Berdasarkan data Bloomberg (2020),  freight rate composite index pada awal tahun 2020 berkisar di nilai 900, naik drastis menjadi 1.800 pada November 2020. Sebagai contoh sampai dengan kuartal III, biaya pengangkutan dari Indonesia ke China US$ 400 (dari tarif normal hanya US$ 60), dan ke Eropa US$ 3.000 (dari tarif normal US$ 1.500) untuk setiap twenty equivalent unit (TEU).

Efek bagi Indonesia

Peningkatan tarif juga terjadi di rute-rute jauh apalagi dibarengi dengan libur Natal dan tahun baru. Berdasarkan data Bloomberg, peningkatan permintaan impor dari Amerika meningkatkan tarif pengangkutan kontainer dari China ke Amerika menembus US$ 4.000 per kontainer sementara rute sebaliknya hanya pada kisaran US$ 518.

Hal ini menyebabkan lebih masuk akal bagi MLO untuk segera kembali ke Asia daripada menunggu mendapatkan kargo balik dengan rate yang jauh lebih kecil. Keputusan ini menyebabkan kekurangan kontainer di beberapa tempat, salah satunya diakibatkan oleh disparitas harga dari Asia ke Eropa dan Amerika Serikat. Eksportir di Indonesia turut mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan space untuk mengirimkan barang ke luar negeri.

Melihat kondisi kuartal IV-2020, beberapa tantangan dan peluang harus segera diantisipasi. Kelangkaan kontainer masih merupakan momok utama yang harus segera dimitigasi.

Bagi negara yang banyak mengekspor raw materials seperti Indonesia, kenaikan freight rates bisa menyebabkan penurunan potensi ekspor. Apalagi jika nilai tambah komoditas ekspor terlalu rendah dibandingkan dengan kenaikan biaya ekspornya.

Di luar hal tersebut terdapat pula peluang baru di depan mata. Terbentuknya Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang melibatkan 10 negara ASEAN dengan China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru adalah sebuah peluang besar bagi Indonesia.

Anggota RCEP memiliki populasi gabungan sebesar 2,27 miliar penduduk, PDB gabungan sebesar US$ 26 triliun, dan total ekspor gabungan sekitar US$ 5,2 triliun. Besaran ini setara dengan sepertiga dari ekonomi global yang menjadi potensi pasar yang sangat besar untuk perdagangan.

Salah satu hasil dari perjanjian RCEP adalah menargetkan eliminasi 90% tarif impor antar negara anggota yang direalisasikan sepenuhnya dalam 20 tahun mendatang. Perjanjian ini menjadi angin segar bagi dunia industri manufaktur dan logistik, termasuk di Indonesia, karena akan mempercepat pemulihan sisi permintaan perdagangan dunia yang diproyeksikan meningkatkan volume perdagangan dunia sebesar US$ 186 miliar.

Tidak luput adalah hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) yang dimenangkan oleh Joe Biden. The Biden effect dipercaya akan mengurangi ketidakpastian pasar global akibat ketegangan perang dagang antara AS-China, kebijakan proteksionisme, dan penarikan beberapa perjanjian kerja sama perdagangan yang dilakukan Donald Trump.

Stabilisasi perdagangan China sangat penting untuk Indonesia. Studi dari Bank Dunia menunjukkan bahwa untuk setiap (tambahan) 1% pertumbuhan PDB China, perekonomian Indonesia terangkat 0,1% karena meningkatnya ekspor dari Indonesia ke China. Secara singkat, tahun 2021 akan sangat menantang namun juga membuka banyak peluang.

Penulis : Ibrahim Kholilul Rohman dan Aji Tanumihardja

Samudera Indonesia Research Initiative




TERBARU
Sukses Berkomunikasi dengan Berbagai Gaya Kepribadian Managing Procurement Economies of Scale Batch 7

[X]
×