kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.24%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.39%

Rapid Test Dampak Sektoral Covid-19

oleh Roy Sembel - Profesor Keuangan dan Investasi IPMI International Business School


Senin, 11 Mei 2020 / 14:00 WIB
Rapid Test Dampak Sektoral Covid-19
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Karena korona dunia merana. Dampaknya multidimensi: kesehatan, kehidupan sosial kemasyarakatan, dan ekonomi, termasuk pasar modal. Mirip dengan jentikan jari Thanos di Wakanda dalam filem layar lebar Avengers Infinity War yang membawa bencana besar bagi alam semesta, letupan korona (Covid-19) di Wuhan telah membawa banyak korban manusia dan membuat ekonomi dunia terkapar.

IMF dalam laporan World Economic Outlook (WEO) April 2020- meramalkan ekonomi dunia akan menyusut 3% tahun ini. Sejalan dengan penderitaan ekonomi dunia, ekonomi Indonesia pun terdampak berat. Pertumbuhan ekonomi yang tadinya bisa di atas 5% dalam beberapa tahun terakhir ini, diramalkan akan anjlok tahun ini antara -0,5%-2,5% .

Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama (Januari-Maret) 2020 telah diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dan angkanya masih positif di level 2,97%. Dampak langsung pandemi baru mulai terasa di bulan Maret. Untuk kuartal kedua (April-Juni), dampak langsung pandemi sudah langsung terasa dengan telah diberlakukan PSBB dan statistik korban korona yang semakin meningkat.

Kabar baiknya, kucuran insentif ekonomi dari pemerintah juga telah mulai mengucur meski rasanya belum bisa mengimbangi dampak negatif dari pandemi itu.

Flight to safety dari investor global menyebabkan arus dana keluar Indonesia cukup besar sehingga berdampak berat terhadap rupiah. Kurs dollar AS terhadap rupiah sempat meroket ke level mendekati Rp 17.000, menembus rekor tertinggi (terburuk) yang terjadi saat krisis 1998.

Sejalan dengan itu, Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) juga menurun bahkan pada tanggal 24 Maret 2020 sempat jatuh ke titik terendah 3937,632, mirip dengan level IHSG sembilan tahun lalu.

Dampak sektoral

Dari data indikator makro dan pasar tersebut, secara keseluruhan terlihat dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap perekonomian dan pasar finansial (pasar uang yang terkait dengan rupiah dan pasar modal yang terkait dengan saham) cukup dalam. Kendati begitu, dampaknya terhadap tiap sektor tentu berbeda-beda. Ada sektor yang relatif sangat rentan dan terdampak parah, ada pula sektor yang terdampak relatif lebih ringan.

Untuk melihat perbedaan antar sektor itu, kita bisa memanfaatkan informasi di pasar saham. Informasi tersebut bisa berupa laporan keuangan para emiten di masing-masing sektor dan pergerakan dan imbal hasil saham yang terukur dengan menggunakan indikator Indeks Harga Saham Sektoral. Untuk memprediksi daya tahan tiap sektor, kita bisa melihat potensi tekanan finansial (financial distress) terhadap emiten di masing-masing sektor itu.

Dalam teori dan hasil riset di bidang keuangan ada beberapa model klasik yang biasa dijadikan acuan untuk menilai dan mengukur potensi tekanan finansial. Model ini terutama memanfaatkan data rasio keuangan dari laporan keuangan perusahaan. Riset klasik tentang pengukuran tekanan finansial ini dimulai dengan publikasi oleh Beaver (1966) dalam artikelnya Financial Ratios As Predictors of Failure, yang intinya melihat perbedaan rasio keuangan antara kelompok perusahaan yang terkena tekanan finansial dan yang tidak.

Penelitian dengan cara berbeda dilakukan oleh Altman (1968) dengan mencari kombinasi rasio keuangan yang membentuk skor indikator Z untuk melihat potensi tekanan finansial suatu perusahaan. Semakin rendah skor Z, semakin buruk kinerja perusahaan dan semakin besar peluang untuk jatuh. Kombinasi itu terus diperbarui dengan menggunakan data baru dan sektor industri baru serta data dari negara berbeda.

Sejak riset klasik oleh Beaver dan Altman, penelitian tentang financial distress dan kebangkrutan perusahaan semakin menjamur. Salah satu kelemahan penggunaan indikator rasio keuangan untuk meramal kesehatan keuangan dan potensi tekanan finansial di masa depan adalah rasio itu merupakan data masa lalu yang terkadang didapat terlambat. Sebagai gantinya kita bisa melihat pergerakan harga saham. Menurut teori pasar efisien yang didukung oleh Prof. Eugene Fama, pemenang hadiah nobel ekonomi tahun 2013, harga saham mencerminkan informasi agregat (baik yang positif maupun negatif) yang terdeteksi dan terolah oleh para pelaku pasar yang berusaha meramal masa depan atas investasinya di saham tersebut. Jadi naik turunnya harga saham, selain mencerminkan informasi masa lalu, juga mencerminkan informasi terkini tentang potensi masa depan perusahaan. Jika harga saham turun (naik), berarti konsensus para pelaku pasar memperkirakan masa depan perusahaan memburuk (membaik).

Menggunakan logika tersebut, daya tahan masing-masing sektor terhadap pandemi Covid-19 bisa tercermin dari seberapa dalam kejatuhan harga-harga saham para emiten di sektor tersebut yang tercermin dalam Indeks Saham Sektoral. Di situs web Bursa Efek Indonesia bisa dilihat informasi perkembangan Indeks Saham sektoral dari 10 sektor.

Untuk melihat dampak pandemi, saya menggunakan cara sederhana. Caranya dengan menghitung return masing-masing indeks sektoral itu pada tiga periode yang logisnya merupakan periode pergerakan indeks akibat informasi pandemi dan/atau mencerminkan sensitivitas gejolak sektor tersebut terhadap shock pandemi.

Pertama, periode 2020 dengan mengukur imbal hasil indeks dari level penutupan akhir Desember 2019 sampai dengan 6 Mei 2020. Kedua, periode antara level tertinggi indeks sektoral itu dalam 1 tahun terakhir sampai dengan 6 Mei 2020. Ketiga, periode antara level tertinggi indeks sektoral sampai level terendah yang terjadi akibat shock pandemi Covid-19.

Hasilnya sebagai berikut. Untuk periode pertama, 2 sektor yang paling parah daya tahannya (terjadi penurunan indeks atau imbal hasil negatif terbesar) adalah aneka industri dan properti. Dua sektor terbaik: barang konsumsi dan pertambangan.

Untuk periode kedua dua sektor terburuk: aneka Industri dan properti. Dua sektor terbaik: manufaktur dan barang konsumsi. Untuk periode ketiga, dua terbaik: perdagangan dan finansial dan dua terburuk aneka industri dan industri dasar.

Berdasarkan hasil dari tiap periode, saya merata-ratakan return indeks untuk tiga periode itu. Berdasarkan rata-rata return tiga periode tersebut, dua sektor pemenangnya adalah sektor barang konsumsi dan perdagangan. Sementara dua sektor dengan daya tahan terburuk aneka industri dan properti. Untuk perbandingan, saya menyertakan data untuk IHSG untuk tiga periode itu.

Untuk dua sektor pemenang, congratulations ! Kendati begitu, bukan berarti sektor itu bisa relax. Tetap diperlukan kerja yang lebih dan kerjasama, karena sektor ini imbal hasilnya masih negatif. Sektor ini masih tetap rentan terkena dampak negatif pandemi

Sedangkan dua sektor terburuk tetap semangat. Ada banyak cara untuk selamat dan keluar dari krisis. Untuk sektor lainya, tetap waspada dan terus bekerja mencari solusi baru yang kreatif dan inovatif. Selamat berjuang!

Penulis : Roy Sembel

Profesor Keuangan dan Investasi IPMI International Business School



TERBARU
Terpopuler

[X]
×