kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Restrukturisasi korporasi menuju jalan sehat


Senin, 01 Oktober 2018 / 14:29 WIB
Restrukturisasi korporasi menuju jalan sehat

Reporter: Tri Adi | Editor: Tri Adi

Masih lekat di ingatan kita, saat rupiah mencapai level Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat belum lama berlalu. Tekanan ekonomi dan gejolak rupiah yang tak kunjung padam menyebabkan banyak pengusaha baik kelas kakap maupun kecil dan menengah gusar. Hal ini dikarenakan tekanan ekonomi tersebut menggerus daya beli dan konsumsi masyarakat yang pada akhirnya juga akan menggerus profit bagi perusahaan. Di saat seperti ini, seorang chief executive officer (CEO) menghadapi berbagai dilema agar dapat mempertahankan perusahan mereka.

Ada berbagai cara dan upaya yang bisa dilakukan pemimpin perusahaan demi menyelamatkan perusahaan. Salah satu jalan yang cukup sering diambil adalah restrukturisasi. Umum sekali restrukturisasi keuangan dilakukan, namun ada lagi jenis restrukturisasi yang dapat menjawab kebutuhan perusahaan dalam meningkatkan efisiensi di tengah gejolak ekonomi, yaitu, restrukturisasi organisasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), restrukturisasi artinya penataan kembali (supaya struktur atau tatanan baik). Dalam konteks restrukturisasi organisasi, bisa diartikan sebagai upaya perusahaan dalam menata kembali organisasi menjadi lebih efektif, efisien dan bisa kembali bersaing di dalam industri yang mereka geluti.

Ada banyak alasan mengapa restrukturisasi menjadi pilihan, Namun secara umum ada dua alasan utama. Pertama, untuk meningkatkan performa perusahaan. Kedua, adalah menyelamatkan perusahaan.

Untuk alasan pertama terjadi ketika secara umum perusahaan dalam kondisi yang cukup sehat, indikator-indikator keuangan seperti revenue, profit margin masih dalam kondisi sehat. Namun pertumbuhan penjualan dirasa melambat dari tahun ke tahun. Kompetitor yang terus menggerus market share dan profit margin yang terus menurun. Dalam kondisi demikian, perusahaan perlu mendiagnosa apakah kinerja departemen penjualan dan pemasaran sudah responsif merespon pasar, atau malah terlalu gemuk, lambat dan birokratis sehingga ketinggalan dalam merespon tren-tren terbaru.

Alasan kedua terjadi ketika perusahaan sudah berada di titik nadir. Penjualan yang terus menurun, indikator keuangan sudah berada dalam zona merah, atau bahkan sudah minus. Dalam kondisi ini, selain perusahaan perlu merestrukturisasi keuangan (utang jatuh tempo misalnya), perusahaan juga perlu merestrukturisasi organisasinya.



TERBARU

[X]
×