kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Restrukturisasi KRAS tanpa PHK massal


Kamis, 18 Juli 2019 / 10:50 WIB

Restrukturisasi KRAS tanpa PHK massal

Ribuan pekerja PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena perusahaan merugi. Sejumlah pekerja sudah dirumahkan sebagai bagian restrukturisasi organisasi perusahaan dan sumber daya manusia (SDM) demi menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

Menurut Manager Security and General Affair PT Krakatau Steel Edji Djauhari, perusahaan mengalami kerugian selama tujuh tahun berturut-turut akibat faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, serbuan baja impor asal China menjadi penyebab memburuknya kondisi perusahaan. Banyaknya jumlah baja impor membuat produk PT KS sulit berkompetisi di pasar.

Kini PT KS terlilit utang Rp 40 triliun. Perusahaan mesti membayar cicilan utang bersama dengan bunganya. Di sisi lain, kinerja perusahaan tidak semakin membaik, bahkan salah satu unit produksi yaitu long product telah berhenti beroperasi.

Para pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Baja Cilegon (FSBC) menolak tindakan merumahkan dan rencana PHK massal dengan dalih restrukturisasi perusahaan. PHK massal merupakan preseden buruk bagi industri strategis yang didirikan oleh Presiden RI pertama Soekarno tersebut.

Menurut pengurus FSBC, sejak 1 Juni 2019 sudah ada sekitar 529 karyawan alih daya yang dirumahkan. Ironis, pabrik baja nasional yang selama ini merupakan BUMN yang tergolong strategis masih memiliki karyawan alih daya atau outsourcing dalam jumlah hingga ribuan orang.

Mestinya sebagai BUMN dan anak usahanya menurut peraturan tidak boleh memperlakukan status outsourcing bagi karyawan yang memiliki kompetensi inti perusahaan. Apalagi, ada karyawan yang sudah bekerja puluhan tahun tetapi masih berstatus alih daya.

Sejarah mencatat Indonesia memiliki industri logam dasar yang dibangun sejak era Presiden Soekarno. Pendirian pabrik baja di Cilegon karena Bung Karno terinspirasi setelah berkunjung ke Uni Soviet tahun 1956 dan mengunjungi pabrik baja Uralmasj Sergo Ordjonikidze.

Saat itu Presiden Soekarno sempat berdiskusi dengan tokoh buruh terkemuka di pabrik itu, bernama Yakov Lipin. Tokoh buruh ini bersedia melatih rakyat Indonesia untuk mendirikan pabrik baja sendiri. Anjuran Lipin disambut baik oleh Bung Karno. Sejak itu Bung Karno termotivasi agar bangsa Indonesia memiliki pabrik baja sendiri dengan volume produksi yang besar sehingga bisa untuk memenuhi kebutuhan pembangunan.

Setelah selesai menyusun studi kelayakan, Cilegon dipilih sebagai tempat pengolahan dan produksi hasil olahan bijih besi karena memiliki kelebihan, seperti lahan luas tanpa alih fungsi lahan pertanian, sumber air melimpah, aksesnya yang terjangkau dari berbagai pulau melalui Pelabuhan Merak.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×