kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Retorika Pembatasan


Kamis, 04 Februari 2021 / 13:53 WIB
Retorika Pembatasan
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Pada masa awal pandemi, pengetahuan pemerintah dan masyarakat perihal virus korona dan penyakit Covid-19 masih minim. Mungkin justru karena itu, segala macam upaya preventif kompak kita jalankan.

Lewat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pemerintah ketat mengawasi masyarakat agar menaati segepok ketentuan dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19. Aparat mengontrol kedisiplinan masyarakat di setiap persimpangan jalan. Siapa saja yang kedapatan melanggar protokol kesehatan mendapat sanksi: surat tertulis sampai push-up di tempat.

Selain menjalankan protokol sesuai anjuran pemerintah, sebagian besar orang sukarela menangkal korona agar tidak menjangkiti diri dan keluarga. Orang jadi rajin olahraga di rumah, berjemur menjelang siang, bahkan minum jamu berbagai rempah dan herbal.

Kini, 10 bulan sejak pandemi, pengetahuan kita tentang Covid-19 bertambah. Rata-rata orang fasih membicarakan virus korona, penyebarannya, sampai gejala sakit pasien yang terpapar. Bahkan banyak orang apal nama-nama obat standar bagi pasien Covid-19 di rumah sakit maupun fasilitas isolasi.

Ironisnya, seiring bertambah pekat pengetahuan tentang korona, jumlah kasus positif justru melonjak. Skenario rasio kasus positif melebihi kapasitas perawatan yang begitu kita takuti di masa awal pandemi, kini malah semakin nyata. Data maupun kisah pilu sulitnya penderita Covid-19 mencari rumah sakit membuktikan kenyataan yang dulu cuma gambaran buruk.

Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) alias PSBB gaya baru tak mampu mengerem lonjakan jumlah kasus. Presiden Jokowi Widodo pun menyiratkan kekecewaannya.

Tak bisa dipungkiri, penyebaran Covid-19 yang meluas secara drastis tidak terlepas dari meningkatnya mobilitas penduduk. Tuntutan ekonomi menjadi alasan langsung maupun tak langsung orang bepergian, bertemu, berkerumun, bahkan berkumpul dengan orang lain. Tanpa itu, ekonomi mandeg seperti pada masa awal pandemi.

PSBB, PPKM, atau pembatasan mobilitas berjudul apapun akan sulit diharapkan bisa efektif bahkan cenderung sekadar menjadi retorika semata. Maklum, penegakan aturan pembatasan dengan segala variasinya sulit dijalankan dengan sungguh-sungguh. Kini aparat dan masyarakat saling tahu bahwa urusan perut tidak bisa lagi disisihkan seperti pada awal pandemi.

Penulis : Hasbi Maulana

Managing Editor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×