kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.143
  • SUN95,65 0,01%
  • EMAS668.000 0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

RUU Permusikan dan cita-cita I-Pop

Senin, 11 Februari 2019 / 14:26 WIB

RUU Permusikan dan cita-cita I-Pop

Pro kontra Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Permusikan kian berkembang, meski sebenarnya masih pada taraf perumusan awal. Pasal yang menimbulkan pertentangan di RUU Permusikan khususnya Pasal 5, yang melarang tiap musisi menciptakan lagu yang mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum, membuat konten pornografi, memprovokasi pertentangan antarkelompok, menodai agama, membawa pengaruh negatif budaya asing, dan merendahkan harkat serta martabat manusia. Juga Pasal 50 yang mengatur hukuman penjara atau denda ke yang melanggar Pasal 5, walau belum jelas tertera berapa tahun hukuman penjara dan rupiah dendanya.

Terkait hal ini, patut diingat kembali gagasan besar Indonesian-Pop (I-Pop) yang pada periode kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah dirintis. Ide I-Pop datang dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kala itu Mari Elka Pangestu, mengemas kekayaan khasanah musik Indonesia menjadi satu cermin kebudayaan sinergis dan lifestyle yang menyatukan dengan wadah I-Pop. Istilah itu terinspirasi hegemoni Korean Pop (K-Pop) yang 10 tahun lalu melalui musik jadi pintu promosi pengenalan budaya Korea ke seluruh penjuru dunia. Musisi dan pencipta lagu jadi ujung tombak yang membentuk citra dan kesadaran dunia terhadap Indonesia.

Memang, sumbangan industri musik terhadap total devisa negara cuma 0,73%. Tapi, konsumen musik dalam negeri yang mendengarkan lagu-lagu produksi anak bangsa mencapai 80% (antaranews.com, 7/5/2012).

Gagasan I-Pop secara implisit meniscayakan peran strategis promotor dan bisnis pertunjukan sebagai aspek strategis. Indonesia memiliki promotor andal yang jumlahnya segelintir. Merekalah yang mempertemukan penyanyi lagu atau musisi dalam dan luar negeri dengan warga Indonesia di atas panggung.

Ketika mendatangkan artis atau musisi kelas dunia ke Indonesia, promotor tidak sekadar menyajikan hiburan bertaraf internasional. Yang lebih penting bagi warga Indonesia adalah, pengalaman belajar secara live dari manajemen artis, teknologi pencahayaan dan tata suara, manajemen panggung, dan manajemen konser itu sendiri. Inilah mengapa konser musisi dunia dinantikan, tidak hanya oleh fans fanatiknya, tetapi juga warga Indonesia yang memahami makna pembelajaran.

Bagi kita, kehadiran promotor yang jumlahnya segelintir itu dampaknya sangat signifikan bagi kemajuan industri musik dan mata rantai yang terkait dengannya. Paling tidak, pengetahuan orang Indonesia akan musik berkualitas tidak hanya dari tontonan film atau CD. Tetapi, terfasilitasi lewat sajian pertunjukan langsung. Di tangan promotor musiklah, bisnis showbiz dan industri musik digerakkan.


Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.0455 || diagnostic_web = 0.4918

Close [X]
×