kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45746,87   -7,31   -0.97%
  • EMAS1.007.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Saat Sarjana Bungkam

oleh Djumyati Partawidjaya - Redaktur Pelaksana


Selasa, 01 September 2020 / 10:46 WIB
Saat Sarjana Bungkam
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Di awal-awal pandemik Covid-19, saya sempat heran melihat beberapa ahli yang membuat prediksi serangan virus Covid-19 akan segera mereda di Juni-September 2020. Prediksi-prediksi ini sekilas terlihat sangat meyakinkan, karena dibuat dengan grafik, hitungan rumit, dan tentu saja sang pembuatnya adalah guru besar dari perguruan tinggi kenamaan di negeri ini.

Sekarang ini, tentu saja kita semua tahu prediksi itu melenceng jauh dari realitas yang terjadi. Ada masih banyak pasien yang terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia. Setiap hari ada sekitar 2.000-3.000 orang yang terkonfirmasi Covid-19, terus meningkat dibandingkan Maret-April lalu.

Angka ini bahkan dianggap masih bisa mendadak bertambah besar, karena jumlah swab tes di Indonesia yang masih sangat minim. Menurut data terakhir, Indonesia hanya melakukan tes 0.06 tes per 1.000 orang atau sekitar 15.000 tes per hari.

Tak perlu dibahas kenapa para ahli itu sampai mau membuat prediksi blunder seperti itu. Tapi kita bisa menemukan lagi beberapa "ramalan"dan "prediksi" yang melenceng jauh dari realitas. Ada banyak ahli, bahkan datang dari perguruan tinggi yang seharusnya menjadi acuan dan mengundang hormat banyak orang, malah menjadi bulan-bulanan di media sosial.

Tentu saja bukan hanya urusan Covid-19, kalau kita perhatikan ada banyak isu yang seharusnya bisa dibahas dengan dingin dan intelektual, berubah menjadi sahut-sahutan panas di media sosial. Mulai dari isu kesehatan, bisnis dan investasi, pendidikan, dan banyak lainnya. Lebih gila lagi, beberapa waktu lalu serangan-serangan sudah bukan lagi sahutan brutal, tapi juga hacking terhadap akun yang dianggap berseberangan.

Sosial media pun menjadi gelombang besar "tren sebuah kebenaran" dengan voting dari para komentatornya. Menjadi komentator nyinyir memang pekerjaan paling gampang dan mengasyikkan. Apalagi kalau "pekerjaan" ini bisa mendatangkan cuan. Bukan rahasia umum ada banyak usaha yang menyediakan berbagai jasa untuk "branding" di sosial media.

Tapi kita pun perlu sadar, realitas yang ada di dunia sosial media bisa berbeda dengan realitas di dunia nyata. Karena, kalau sebuah kebenaran adalah hasil voting para komentator di sosial media, tentu itu adalah kebenaran yang bisa dibeli.

Semoga para intelektual kita masih ada, masih independen, dan tetap mau bersuara lantang.

Penulis : Djumyati Partawidjaya

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×