kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45746,90   -7,28   -0.96%
  • EMAS1.007.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Siapkan Diri

oleh Barratut Taqiyyah Rafie - Redaktur Pelaksana


Senin, 07 September 2020 / 12:34 WIB
Siapkan Diri
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Kata resesi sudah akrab di telinga kita beberapa bulan belakangan, terutama setelah pandemi korona melanda dunia. Apa itu resesi? Melansir Forbes, pada 1974, ekonom Julius Shiskin mendefinisikan resesi ekonomi sebagai penurunan produk domestik bruto (PDB) yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut. Adapun sejumlah ahli menilai, resesi merupakan suatu kondisi saat sebuah negara mengalami PDB negatif untuk periode waktu yang panjang.

Satu per satu, perekonomian negara di dunia masuk ke jurang resesi. Data yang dihimpun Kontan menunjukkan, jumlah negara yang perekonomiannya masuk ke jurang resesi sudah mencapai 18 negara. Laporan teranyar, Australia resmi resesi setelah PDB-nya mengalami kontraksi 6,3% pada kuartal II 2020. Ini merupakan resesi pertama Australia dalam 30 tahun terakhir.

Tak jauh berbeda, perekonomian Indonesia juga terkena badai virus korona. Pada kuartal II lalu, ekonomi kita mengalami kontraksi 5,32%. Jika ekonomi Indonesia pada kuartal III kembali negatif, maka, resmi pula kita mengalami resesi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa waktu lalu mengisyaratkan, kalau ekonomi Indonesia akan masuk jurang resesi. "Di kuartal III-2020, ekonomi kita masih mengalami negative growth, bahkan di kuartal IV-2020 masih dalam zona sedikit di bawah netral," begitu katanya.

Sebenarnya, pemerintah sudah memiliki sejumlah strategi agar ekonomi kita bisa kembali pulih. Salah satunya yakni menggenjot realisasi belanja pemerintah. Kita sudah bisa melihat progresnya. Misalnya saja, ada program Kartu Prakerja, penyaluran dana bagi UMKM, pinjaman super lunak Kredit Usaha Rakyat (KUR), bantuan bagi ibu rumah tangga yang berusaha, dan masih banyak lagi program lainnya.

Kendati demikian, sebagai individu, kita juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi resesi. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, menyiapkan dana darurat. Dana ini dapat membantu jika tiba-tiba kita kehilangan pekerjaan. Kedua, berhemat.

Di saat pandemi seperti sekarang, mulailah memilah pengeluaran-pengeluaran mana yang penting dan tidak penting. Ketiga, mendirikan bisnis sampingan.

Jangan terlalu cemas dengan datangnya resesi. Mengutip kata-kata bijak dari Warren Buffet, selalu ada sisi positif saat terjadi resesi ekonomi. Yang terpenting adalah bagaimana mempersiapkan diri kita masing-masing.

Penulis : Barratut Taqiyyah Rafie

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×