kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.862   16,00   0,09%
  • IDX 8.887   -49,73   -0,56%
  • KOMPAS100 1.227   -1,71   -0,14%
  • LQ45 868   -0,42   -0,05%
  • ISSI 324   -0,16   -0,05%
  • IDX30 441   1,17   0,27%
  • IDXHIDIV20 520   2,75   0,53%
  • IDX80 137   -0,17   -0,13%
  • IDXV30 144   0,25   0,18%
  • IDXQ30 141   1,00   0,71%

Silver Bullet


Kamis, 06 Agustus 2020 / 12:34 WIB
Silver Bullet
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Belakangan saya disibukkan dengan telepon gelap. Ia mengaku dari kantor e-commerce besar. Yang membikin saya shock adalah si penelepon ini tahu data personal, yakni alamat rumah.

Bagi saya, ini tak lazim lantaran saya jarang menggunakan alamat rumah untuk urusan apapun. Saya menduga, ada kebocoran data. Ini sungguh membuat konsumen tak nyaman. Dan sudah sepatutnya, data saya tak bocor.

Kebocoran data acap terjadi, dengan tanpa aksi lanjut serius untuk benar-benar menjaga data privacy konsumen. Kasus kebocoran data terbaru datang perusahaan teknologi asal Indonesia yang bergerak di bidang finansial alias fintech: Kreditplus. Data klien diduga bocor dan dijual bebas di internet.

Kabar ini mencuat berdasarkan laporan terbaru dari firma keamanan siber asal Amerika Serikat, Cyble. Berdasarkan laporan Cyble, ada tar 890.000 data nasabah Kreditplus yang diduga bocor.

Sebelumnya, kasus terjadi kebocoran data datang dari marketplace Tokopedia. Data konsumen dijual di forum terbuka yang acap digunakan sebagai kanal untuk pertukaran database, Raidforums.

Dengan transaksi lintas batas, aneka ragam transaksi secara daring memang membuka kesempatan lebar untuk para pencuri atau hacker menerobos ruang tanpa batas itu.

Di sinilah, rasa aman dipertaruhkan. Ahli teknologi berkejaran dengan waktu untuk teknologi pengamanan data. Tapi ini tak cukup, harus ada peran negara mengatur keamanan data pribadi.

Saat ini Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi masih di laci pemerintah dan parlemen, yang disebut akan menjadi prioritas. Di tengah derap cepat di industri e-commerce dan perusahaan berbasis IT lain, RUU ini harus segera jadi landasan. Nyaris, semua transaksi kini mengandalkan online yang rentan akan serangan siber.

Celakanya, saat bersamaan, negeri ini, seperti negara lain, punya prioritas yang lebih penting: menyelamatkan keselamatan dan kesehatan warga dari pandemi korona, sekaligus menyelamatkan ekonomi agar tak mengalami krisis.

Alhasil, tuntutan pengamanan data konsumen bergantung pada dimana kita menyerahkan data personal kita. Seperti peringatan WHO atas pandemi korona yang disebut belum ada silver bullet, pun dengan keamanan data kita. Belum ada peluru perak yang mampu untuk mematikan serangan, pencurian data atau cyber crime. Jadi jaga kesehatan data Anda sendiri.

Penulis : Titis Nurdiana

Managing Editor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×