Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.460
  • EMAS662.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Sinyal positif masa depan tambang

Rabu, 06 Maret 2019 / 15:11 WIB

Sinyal positif masa depan tambang

Permasalah pertambangan nasional saat ini cukup kompleks. Kita tidak mungkin mengharapkan jawaban detil tuntas, mendalam, dan komprehensif dari kedua calon presiden (capres) dalam acara Debat Pemilihan Presiden (Pilpres) yang digelar Minggu, 17 Februari 2019.

Apalagi, tema yang diusung dalam debat sangat kompleks dan lintas sektoral, karena harus membahas maslah energi, infrastruktur, pangan, sumber daya alam (SDA), dan lingkungan hidup. Selain itu waktu juga terbatas. Kedua calon pemimpin Indonesia lima tahun ke depan tentu tak akan bisa memaparkan dan mengeksplorasi data, fakta, serta gagasannya guna menjawab isu-isu yang disusun para panelis.

Memang para panelis dalam debat lalu sesuai bidangnya masing-masing terdiri dari para pakar sangat mengerti persoalan yang terjadi di negeri ini. Tidak semua pertanyaan yang disiapkan para panelis bisa dipaparkan kepada kedua capres karena terganjal keterbatasan waktu.

Namun, Perhimpunan Ahli Tambang Indonesia (Perhapi) sebagai wadah para profesional di bidang pertambangan, menangkap sejumlah sinyal dan gagasan positif yang disampaikan oleh kedua kandidat. Kedua kandidat memberi gagasan untuk membawa Indonesia sebagai negara yang berdaulat, mandiri secara energi, dan tentu saja berkomitmen terhadap kelestarian lingkungan hidup. Hal ini sejalan dengan praktik pertambangan yang baik dan benar (good mining practice).

Menurut Perhapi, masalah kelestarian lingkungan ini memang isu yang sangat krusial. Cadangan sumber daya energi dari perut bumi Nusantara yang berasal dari fosil, seperti minyak bumi dan batubara, setiap tahun akan terus berkurang dan menipis. Sementara di satu sisi, dengan semakin berkembangnya industri, pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pertambahan jumlah penduduk Indonesia, kebutuhan atas energi tentu akan semakin meningkat.

Faktanya, Indonesia kini telah menjadi net importir minyak bumi. Penurunan produksi minyak dari ladang-ladang minyak di seluruh wilayah Indonesia tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri. Berdasarkan catatan Perhapi, produksi minyak Indonesia kini berkisar 780.000 barel per hari. Sementara konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari.

Penurunan produksi minyak bumi akan mengakibatkan Indonesia pada kurun waktu 2025 sampai 2050 akan mengalami defisit minyak bumi sebesar 1,3 juta barel per hari. Sedangkan defisit gas bumi sebesar 2,42 billion standard cubic feet per day (bscfd) sampai 24.23 bscfd. Pemerintah terpaksa mengatasi kekurangan minyak ini dengan mengimpor. Dampak lanjutannya akan menjadi penyebab kenaikan defisit neraca perdagangan Indonesia.

Salah satu alternatif untuk menambal defisit tersebut adalah dengan memanfaatkan batubara kalori rendah. Saat ini cadangan batubara jenis ini sangat besar di Indonesia, yakni sekitar 35.3 miliar ton (93% dari total cadangan batubara di Indonesia-data Dirjen Minerba, November 2018).

Di samping itu, pemerintah juga harus melihat peluang memanfaatkan energi murah dari batubara sebagai pembangkit listrik yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian nasional.

Saat ini, energi yang lebih murah adalah yang bersumber dari batubara. Namun, pengembangan energi listrik dari batubara harus diikuti oleh peningkatan teknologi guna mengurangi pencemaran yang ditimbulkan.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0546 || diagnostic_web = 0.4265

Close [X]
×