kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,14   -3,74   -0.39%
  • EMAS956.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -1.46%
  • RD.CAMPURAN -0.55%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Sistem Kesehatan

oleh Sandy Baskoro - Redaktur Pelaksana


Senin, 11 Januari 2021 / 11:17 WIB
Sistem Kesehatan
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Hari-hari ini wabah korona semakin dekat mengelilingi dan mengancam kita. Hingga kemarin (10/1), jumlah akumulasi kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 828.026 orang. Adapun jumlah kesembuhan 681.024 orang dan meninggal dunia 24.129 orang. Per Ahad lalu, tambahan kasus positif harian korona 9.640 orang dan jumlah kesembuhan 7.513 rang.

Kita tidak ingin perang melawan korona berlarut-larut. Namun jika melihat penanganan korona belakangan ini, harapan menghentikan pandemi dalam tempo singkat agaknya masih berat. Lihat saja, data kasus aktif korona cukup banyak, yakni 122.873 orang (setara 14,8% dari data terkonfirmasi).

Belakangan ini kita mendengar dan menyaksikan kenyataan getir, pasien korona antre untuk mendapatkan kamar perawatan di rumah sakit. Di beberapa daerah, berdasarkan data awal Januari 2021, tempat tidur untuk ICU dan ruang isolasi sudah terisi lebih dari 70% dan berpotensi terus meningkat. Situasi ini terjadi di DKI Jakarta, Banten, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Seiring dengan penuhnya ruang perawatan, beban kerja tenaga kesehatan pun bertambah, bahkan overload. Belum lagi, tingkat kematian tenaga kesehatan di masa pandemi terus meningkat. Sejak Maret hingga Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19. Jumlah itu meliputi 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medis.

Apabila tenaga medis sudah keteteran, ditambah ruang perawatan yang hampir penuh, maka kondisi ini bisa menyebabkan kekacauan. Jika jumlah kasus positif Covid-19 tak bisa ditekan, di saat yang sama fasilitasnya tak bisa menampung, maka sistem kesehatan Indonesia terancam kolaps.

Melihat kondisi ini, maka pemerintah perlu segera mengevaluasi sistem kesehatan nasional. Jumlah fasilitas kesehatan dan jumlah tenaga kesehatan perlu diperkuat. Ke depan, persebaran dan kualitas pelayanan juga perlu ditingkatkan.

Melihat kemampuan sistem kesehatan terbatas, semestinya pemerintah sadar sedari awal: mengunci wilayah untuk menekan wabah korona. Memang kebijakan lockdown menimbulkan konsekuensi anggaran. Tapi faktanya, ketika wabah kini mengganas, sistem kesehatan keteteran dan angka kematian tinggi, toh anggaran tetap banyak keluar, bahkan ada yang dikorupsi.

Penulis : Sandy Baskoro

Redaktur Pelaksana




TERBARU
Sukses Berkomunikasi dengan Berbagai Gaya Kepribadian Managing Procurement Economies of Scale Batch 7

[X]
×