kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.24%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.39%

Statistik Putar Balik

oleh Hasbi Maulana - Managing Editor


Rabu, 06 Mei 2020 / 13:40 WIB
Statistik Putar Balik
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Kini sebagian orang tak bisa melepaskan perhatian dari beberapa statistik penting. Termasuk di dalamnya data indikator ekonomi makro, harga minyak mentah, harga saham di pasar modal, serta data kasus Covid-19.

Selain data-data tersebut, ada data lain yang lebih "ringan" namun tak kalah menarik diamati dan dicermati. Bahkan, bisa jadi data ini menunjukkan fenomena yang bisa berdampak serius. Data itu adalah jumlah pemudik nekat yang dipaksa putar balik oleh polisi.

Seperti kita ketahui, pemerintah telah melarang masyarakat mudik ke kampung halaman menjelang Lebaran demi mencegah penyebaran virus korona (Covid-19). Namun, nyatanya, banyak orang nekat menjajal peruntungan "menembus benteng" aparat yang berjaga.

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mencatat, hingga Senin (4/5) sebanyak 28.093 unit kendaraan telah diminta putar balik karena mencoba menerobos larangan itu. Kompas.com menulis, angka itu mencakup kendaraan yang diminta putar balik di Jabodetabek (11.655 unit), Jawa Timur (5.695 unit), Jawa Barat (3.767 unit) dan Banten (3.413 unit), Jawa Tengah (2.501 unit), Lampung (769 unit), dan Yogyakarta (293 unit). Jumlah tersebut mencakup mobil pribadi, angkutan umum, dan sepeda motor.

Yang menarik: Polri juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah kendaraan pemudik yang nekat. Pada hari kesembilan terdapat 2.300 kendaraan diminta putar balik, pada hari ke-10 sebanyak 2.323 kendaraan, dan pada hari kesebelas 2.365 kendaraan.

Memang jumlah kendaraan yang ditumpangi pemudik nekat saat ini masih jauh di bawah angka normal kendaraan yang biasa melintasi Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Namun kita juga belum tahu apakah semakin mendekati Lebaran bakal kian banyak orang nekat atau tidak.

Hingga tulisan ini naik cetak, belum ketahuan apakah terjadi eskalasi angka harian pemudik pantang menyerah tersebut. Jumlah kendaraan pemudik nekat yang berangkat bersamaan bisa saja menimbulkan kemacetan di jalan tol, seperti arus mudik tahun-tahun lalu. Jika sampai itu terjadi, entah sampai kapan petugas di lapangan mampu menegakkan aturan, serta seberapa kuat pemerintah tega untuk tetap menerapkan kebijakan larangan mudik.

Hampir separuh Ramadan sudah lewat, sebagian perantau sudah menyiapkan mental untuk tak mudik. Semoga pemerintah memegang teguh niat untuk tak mengirim virus Covid-19 ke kampung halaman.

Penulis : Hasbi Maulana

Managing Editor



TERBARU
Terpopuler

[X]
×