kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Struktur dan kinerja perbankan Indonesia


Kamis, 28 Maret 2019 / 15:37 WIB
Struktur dan kinerja perbankan Indonesia

Reporter: Harian Kontan | Editor: Tri Adi

Mengkaji data perbankan Indonesia dan membandingkannya dengan perbankan di kawasan akan menyadarkan kita bahwa perbankan Indonesia cukup tertinggal. Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Januari 2019 menunjukkan, misalnya, Net Interest Margin (NIM) alias selisih antara suku bunga pinjaman dengan suku bunga dana dari bank umum konvensional di Indonesia berada di angka 5,72%.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, angka marjin keuntungan ini dapat disebut fantastis. Profitabilitas perbankan Indonesia tertinggi di antara negara tetangga, sehingga tak heran banyak bank asing yang tertarik untuk mengakuisisi bank nasional.

Bandingkan dengan perbankan Thailand yang rata-rata NIM nya hanya 2,84% pada Januari 2019. Uniknya perbankan Thailand ini sejak dulu secara terbuka dijadikan benchmark oleh otoritas moneter dan jasa keuangan Indonesia. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, saat fit and proper test di DPR tahun lalu menyatakan marjin perbankan Indonesia saat itu terlalu tinggi, yakni di kisaran 5,19%, jauh di atas Thailand.

Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK periode kepengurusan yang lalu juga membuat pernyataan pers yang sama. Seperti yang data yang dilansir OJK di atas, NIM rata-rata Indonesia justru mengalami peningkatan. NIM perbankan Thailand justru makin turun.

Mengutip halaman resmi Federal Reserve Bank of State Louis, pada akhir 2015 NIM Thailand sebesar 3,07%, Malaysia 1,72%, dan Filipina 3,58%. Jika dibandingkan dengan periode yang sama, Indonesia akhir 2015 NIM 5,39%, tetap lebih tinggi walau pun sempat sedikit turun, 0,2% , di tahun 2018.

Data ini menunjukkan fakta bahwa perbankan Indonesia terlalu tinggi dalam mengambil marjin keuntungan. Akibatnya penyaluran kredit kurang maksimal.

Korporasi kesulitan membiayai usahanya atau membebankan biaya bunga kepada konsumennya dalam bentuk harga yang lebih tinggi. Akibatnya, efisiensi bisnis domestik menjadi rendah, daya saing produk Indonesia lemah dan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi terhambat.

Mengapa perbankan di Indonesia "serakah" dalam mengambil marjin keuntungan?

Ada beberapa alasan. Pertama, operasional perbankan Indonesia punya efisiensi yang kalah jauh dibanding perbankan tetangga. Rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) Indonesia paling tinggi dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia.

Per akhir Januari 2019, rasio BOPO bank umum konvensional di Indonesia 87,79%. Ini artinya, untuk menghasilkan laba Rp 1, bank-bank di Indonesia harus mengeluarkan biaya Rp 0,8779. Rasio BOPO ini lebih tinggi ketimbang rata-rata 2014 sebesar 76,29%.

Jadi dibandingkan posisi 5 tahun lalu, efisiensi perbankan Indonesia justru memburuk. Sebagai perbandingan, BOPO bank-bank di Malaysia per akhir 2015 hanya sebesar 63,25%, Thailand 80,49%, dan Filipina 75,43%.

Sebagian bankir berkilah, efisiensi masih buruk karena perbankan masih perlu ekspansi kantor cabang ke daerah-daerah yang sebetulnya kurang menarik secara bisnis perbankan. Wilayah Indonesia memang luas, sekali dengan disparitas ekonomi yang mencolok antarwilayah. Tanpa regulasi pemerintah, aktivitas bank hanya akan berkutat di wilayah yang menguntungkan saja seperti di wilayah barat Indonesia.





Close [X]
×