kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,14   -3,74   -0.39%
  • EMAS956.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -1.46%
  • RD.CAMPURAN -0.55%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Tahun 2020 Sebagai Tahun Senyum IHSG

oleh Roy Sembel - Profesor di IPMI International Business School


Rabu, 06 Januari 2021 / 13:55 WIB
Tahun 2020 Sebagai Tahun Senyum IHSG
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Bagaimana mungkin tahun 2020 tahun senyum IHSG? Kan sudah jelas imbal hasil IHSG tahun 2020 adalah negatif, yaitu minus 5,09%. Tambahan pula, pada 24 Maret 2020 IHSG sempat jatuh ke level terendah sejak Januari 2012. Iya, data itu betul. Judul artikel ini tidak mengacu pada return IHSG. Lantas maksudnya bagaimana? Ok mari kita bahas.

Ceritanya dimulai dari dampak Covid-19 sepanjang tahun 2020. Pada akhir Maret 2020 saya menderita Covid -19 dan pada awal April harus dirawat di rumahsakit di klaster penderita Covid-19. Dampak fisik yang terlihat jelas dari serangan korona itu adalah berat badan saya turun dari 83 kg di awal 2020 menjadi di bawah 70 kg di titik nadir saat dirawat di rumahsakit.

Untungnya, saya dinyatakan sembuh resmi pada akhir April sehingga berhasil menjadi penyintas korona. Sejalan dengan pemulihan kesehatan, berat badan saya berangsur-angsur pulih kembali ke sekitar 80 kg pada akhir 2020. Apa hubungannya cerita itu dengan IHSG?

Ternyata ada kemiripan antara dampak korona di tahun 2020 terhadap IHSG dan terhadap berat badan saya. Pada awal tahun 2020, IHSG sempat bertengger di level di atas 6300-an. Saat Covid-19 menyerang, IHSG jatuh ke titik nadir di bawah level 4000 pada minggu terakhir Maret 2020. Pada akhir April 2020, IHSG mulai stabil di level 4500-an dan berangsur naik kembali ke level sekitar 6000 pada akhir Desember 2020. Mirip kan?

Iya mirip, tapi apa hubungannya dengan senyum? Ada yang sudah tidak sabaran nih . Oke deh, kita langsung menuju topik senyum. Ngomong-ngomong soal senyum, di media sosial orang biasa menggunakan symbol smiley. Ciri utamanya adalah bentuk bibir yang mirip kurva kuadratik terbuka (cekung) ke atas.

Nah, kalau kita coba gambarkan grafik IHSG yang dimuluskan (smoothed), maka gambarnya berbentuk mendekati bentuk bibir yang sedang tersenyum.So, begitulah ceritanya bahwa IHSG sedang tersenyum di tahun 2020.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 pun cenderung mirip bentuk bibir senyum itu. Kuartal pertama (Q1), pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah mulai turun dari biasanya masih di atas 5% menjadi 2,97%. Sejalan dengan pasar saham yang anjlok di Q1 2020 yang mencerminkan ekspektasi masa depan yang suram, pertumbuhan ekonomi tahunan Indonesia di Q2 jatuh ke titik nadir, yaitu -5,32%.

Pada Q2 2020 IHSG sudah mulai membaik. Perbaikan ini berarti pasar berekspektasi masa depan semakin membaik. Ekspektasi itu terealisasi di Q3 saat pertumbuhan ekonomi Indonesia meski masih negatif (yaitu -3,49%) namun sudah lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi di Q2. Ini berarti kurva pertumbuhan ekonomi sudah mulai berbelok ke atas.

Pada Q3, IHSG semakin membaik lagi. Hal ini mencerminkan ekspektasi masa depan ekonomi yang semakin membaik. Meski pertumbuhan ekonomi Q4 belum resmi diumumkan, perbaikan IHSG di Q3 memberikan harapan bahwa pertumbuhan ekonomi di Q4 akan semakin membaik, sehingga akan lengkaplah kurva senyum dari pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020.

IHSG 2020 vs 1984-2019

Terkait dengan pola pergerakan IHSG, menarik juga jika dibandingkan karakteristik IHSG tahun 2020 dibandingkan karakteristik historisnya selama periode 36 tahun sebelumnya (1984-2019). Perbandingan return IHSG tiap bulan pada tahun 2020 dibandingkan rataan return bulanannya tiap bulan tahun 1984-2019, terlihat perbedaan mencolok khususnya pada bulan Januari, Februari, dan Maret, sementara untuk bulan-bulan selanjutnya cenderung tidak terlalu berbeda

Pola yang mirip juga terlihat jika return bulanan itu dirata-ratakan dan dikelompokkan per kuartal. Kuartal 1 (Q1, Januari-Maret) biasanya secara historis memberikan return yang positif, namun tahun 2020 justru hasilnya negatif cukup besar. Dikaitkan dengan serangan korona, tampaknya pada Q1 pelaku pasar sudah mengantisipasi dampak buruk korona terhadap ekonomi, khususnya terhadap bisnis emiten Bursa Efek Indonesia pada umumnya.

Antisipasi ini sesuai dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada Q2 yang negatif. Sementara itu untuk Q2-Q4, kinerja IHSG 2020 cenderung sedikit lebih baik dibandingkan kinerja historisnya. Pola ini menunjukkan bahwa pelaku pasar secara konsensus cenderung memiliki pandangan positif terhadap konsolidasi pemulihan ekonomi di masa mendatang.

Bagaimana implikasinya bagi para investor saham di tahun 2021? Jika pola historis return bulanan IHSG telah kembali normal di tahun 2021, maka pola return bulanannya juga mirip bentuk bibir yang sedang tersenyum. Di awal tahun (Q1) cenderung bagus, di Q2+ Juli return-nya masih oke meski lebih rendah dibanding rata-rata return di Q1. Tiga bulan berikutnya (Agustus-Oktober) cenderung tidak bagus, namun bulan terakhir akan pulih dan bahkan bulan Desember secara historis merupakan bulan dengan rataan return historis tertinggi.

Berdasarkan pola historis ini, investor saham bisa mencoba strategi market timing (menentukan waktu masuk dan keluar saham), yaitu jual di bulan Agustus dan masuk kembali di bulan November. Strategi investasi market timing yang merupakan hasil riset mahasiswa IPMI International Business School di bawah bimbingan saya (Sembel, 2019) ini disingkat menjadi SIABIN (sell in August, buy in November). Jadi, jika anda percaya strategi market timing dan bahwa pola historis cenderung berulang di bursa efek, silakan mencoba strategi SIABIN. Tentu saja disclaimer-nya, risiko tanggung sendiri ya.

Tahun 2020 yang penuh tantangan khususnya karena serangan korona telah kita lalui. Memasuki tahun 2021, vaksin telah tersedia. Diharapkan ekonomi dan pasar saham akan semakin sehat. Tahun 2020 adalah tahun senyum IHSG karena Covid-19.

Tahun 2021 bagaimana? Mari kita jadikan tahun 2021 tahun VACCINE-21. VACCINE maksudnya: Versatility (kemampuan menyesuaikan diri terhadap banyak situasi), Amelioration (membuat jadi lebih baik), Collaboration (kolaborasi atau kerjasama win win), Creativity (kreativitas mencari solusi), Innovation (inovasi memanfaatkan banyak kesempatan), Nimbleness (bergerak lincah dan gesit), dan Ecosystem (membangun ekosistem bisnis untuk menggalang sumberdaya bersama dalam menghadapi tantangan). Sementara itu, stay safe, healthy, and happy, dan tetap semangat!

Penulis : Roy Sembel

Profesor di IPMI International Business School




TERBARU
Sukses Berkomunikasi dengan Berbagai Gaya Kepribadian Managing Procurement Economies of Scale Batch 7

[X]
×