kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45858,94   -4,22   -0.49%
  • EMAS820.000 -10,87%
  • RD.SAHAM -1.01%
  • RD.CAMPURAN -0.38%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Tak Cukup Edukasi

oleh Thomas Hadiwinata - Redaktur Pelaksana


Kamis, 25 Maret 2021 / 08:04 WIB
Tak Cukup Edukasi
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Apa yang salah dengan kegiatan di bursa saham kita? Pertanyaan semacam ini muncul sehubungan dengan kabar tentang bunuh diri yang dilakukan seorang pemuda di Jakarta, pekan ini.

Dari keterangan keluarga korban, polisi memberi dugaan sementara: Si korban melakukan aksi itu akibat masalah keuangan yang bermuara pada kegiatannya main saham.

Insiden tragis ini menjadi ironi jika disandingkan dengan pertumbuhan jumlah investor, yang diukur dengan jumlah single investor identification (SID) selama dua tahun terakhir. Mengutip kontan.co.id, jumlah SID investor saham meningkat 53,47% di 2020.

Tren itu berlanjut selama tiga bulan pertama tahun ini. Dalam acara B-Talk yang disiarkan KompasTV, Selasa (23/3), Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hasan Fawzi, menyebut, jumlah investor pasar modal, termasuk saham, sudah tumbuh 27% per Maret.

Itu jelas berarti makin banyak orang yang meminati investasi. Karena tujuan investasi adalah membiakkan kekayaan, aman bagi kita untuk berasumsi bahwa makin banyak orang yang menyadari peluang memupuk harta di bursa.

Namun, apa yang ditemukan para pemain baru itu di bursa? Apa iya aset mereka berkembang? Atau justru masalah keuangan, seperti yang dialami si pemuda naas di atas?

Di titik ini, kita cenderung kembali menggarisbawahi pentingnya edukasi. Bahwa orang yang berinvestasi harus paham tujuan berikut risikonya. Bahwa dana yang diputar di saham bisa tergerus, karenanya kita perlu menggunakan dana dingin. Bahwa membaca fundamental emiten itu penting. Dan seterusnya.

Namun apa para investor baru, yang didominasi generasi milenial, tidak melek informasi basic macam itu? Jangan-jangan mereka sengaja mengabaikan prinsip-prinsip itu karena mereka menyaksikan realitas yang berbeda.

Semisal, mereka melihat bahwa cuan bisa datang dari mengikuti stockpick yang diberikan berbagai grup berbayar, atau bahkan meme di medsos. Jadi, buat apa membaca laporan keuangan emiten, apalagi berita di media.

Untuk melempengkan kembali persepsi yang pemain baru, pengelola bursa dan otoritas Jasa Keuangan perlu menata kembali aturan main sesuai dengan situasi perdagangan di masa kini yang berbau digital. Ambil contoh, aturan tentang pemberian rekomendasi saham di medsos, atau di berbagai forum diskusi, termasuk yang ada di platform milik sekuritas.

Penulis : Thomas Hadiwinata

Redaktur Pelaksana




TERBARU
Kontan Academy
Panduan Cepat Pendalaman Strategic Thinking Sukses Berkomunikasi: Mempengaruhi Orang Lain Batch 2

[X]
×