kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Tak jadi pelanduk dalam perang antar-imperialis


Kamis, 23 Mei 2019 / 13:26 WIB
Tak jadi pelanduk dalam perang antar-imperialis

Reporter: Ardian Taufik Gesuri | Editor: Tri Adi

Masih susah rupanya untuk merasakan damainya tradisi demokrasi seperti di negara maju. Begitu hasil quick count keluar, pihak yang kalah kontan menerima kekalahan dan menyampaikan ucapan selamat kepada pihak yang menang. Sebaliknya, sang pemenang pun tidak akan merendahkan yang dikalahkan, dan berupaya mencari win-win solution.

Toh, masih bagus jugalah bila akhirnya pihak Prabowo-Sandi menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Karena jalan demokratis yang telah ditempuh akan bubar jalan bila ujungnya menggelar demokrasi jalanan dengan mengerahkan massa kendati pun berbungkus people power. Sejalan dengan itu, mereka harus mengimbau pengikutnya untuk menyudahi aksi unjuk rasa yang hanya akan mengundang para pembonceng meletupkan huru-hara.

Unjuk rasa yang memaksakan kehendak hanyalah akan mengundang reaksi balik dari pendukung Jokowi-Maruf Amin. Bagaimanapun mereka sudah menjalani semua proses pemilu dan akhirnya mengantongi kemenangan berdasarkan hasil rekapitulasi suara di KPU.

Karena itulah kita dukung langkah damai, dengan membawa persengketaan proses dan hasil pemilu serentak ini ke jalur hukum, yang konstitusinal. Sebab, tuduhan kecurangan tak boleh dibiarkan meruak tanpa adanya pembuktian melalui mekanisme hukum positif lantaran hanya akan jadi fitnah massal.

Jelas tak ada yang menginginkan negara yang telah menjalani reformasi dua dasawarsa silam ini menjadi negara gagal. Terpuruk dalam perebutan kekuasaan penuh kekerasan, jauh dari kedamaian dan ketenteraman. Padahal, justru saat inilah kita membutuhkan persatuan yang erat di antara seluruh unsur kekuatan bangsa demi tegaknya ketahanan dan kedaulatan Indonesia di tengah perang dagang negara-negara raksasa dunia.

Seperti kita saksikan, Presiden AS Donald Trump begitu ngotot untuk mengerem laju ekspansif Tiongkok agar tidak menyalip AS sebagai superpower. Tapi, Tiongkok pun melawan balik. Jadilah perang dagang di antara para imperialis ekonomi dunia ini memanas hingga kini.

Jelas kita tak sudi Indonesia menjadi pelanduk yang mati di tengah perkelahian antar-gajah. Data terakhir defisit neraca dagang kita tambah parah, ekspor melemah. Nilai tukar rupiah tertekan, daya beli masyarakat pun masih loyo.

Sangat butuh situasi stabil dan kondusif untuk mengangkat kembali perekonomian Indonesia, mengejar cita-cita menjadi Macan Asia.♦

Ardian Taufik Gesuri




TERBARU

×