Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.206
  • SUN90,77 -0,26%
  • EMAS626.185 0,32%

Tenaga kerja asing, kenapa harus bising

Jumat, 11 Mei 2018 / 15:39 WIB

Tenaga kerja asing, kenapa harus bising



Revolusi mental

Buya HAMKA, dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, pernah berujar bahwa Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan. Maka, cinta kita pada negara ini, janganlah membawa keputusasaan atau mengasihani diri dalam persoalan tenaga kerja asing ini. Justru harus menimbulkan semangat berjuang agar kualitas tenaga kerja kita tidak kalah dengan asing. Itulah cinta tanah air dan nasionalisme yang sebenarnya.

Maka, Perpres 20/2018 seharusnya membawa implikasi bagi pembenahan mind-set kita dalam memandang permasalahan tenaga kerja. Oleh karena itu, inisiatif pemerintah dengan membuat terobosan melalui regulasi itu seharusnya dilihat secara positif. Bahkan, semangat itu seharusnya juga menjalar dan menular ke regulasi lainnya serta pada pemerintah daerah yang adalah ujung tombak pembangunan. Kita seharusnya menjalankan negara dengan semangat egaliter dan bukan chauvinistik.

Polemik tenaga kerja asing ini menunjukkan bahwa semangat nasionalisme yang terbangun selama ini adalah semangat nasionalisme sempit. Kita lupa bahwa apa yang kita pakai untuk mengukur orang lain, cepat atau lambat, akan dipakai untuk mengukur diri kita sendiri. Dalam hal ini, bagaimana kita memperlakukan warga negara asing yang mencari penghidupan di Indonesia akan digunakan untuk mengukur warga negara Indonesia yang juga mencari penghidupan di luar negeri.

Indonesia, seharusnya dimaknai sebagai rumah bagi semua kaum dan bahasa, dimana menjadi Indonesia bukan lagi dimaknai hanya sebatas lahir dan tinggal di Indonesia tetapi memiliki semangat Pancasila di dalam dirinya. Jika pendekatan ini yang digunakan, kita tidak akan lagi terancam dan mudah ditakut-takuti dengan hadirnya tenaga kerja asing. Selama tenaga kerja itu dapat digunakan untuk membangun Indonesia, asing maupun lokal seharusnya tidak dipertentangkan.

Kini persoalannya tinggal apakah para stakeholder tenaga kerja di Indonesia mampu untuk menyikapi gebrakan yang dimiliki oleh pemerintah ini. Sudah bukan saatnya berprestasi dengan cara menjegal jalan orang lain, ataupun keberpihakan negara diukur dari banyaknya aturan-aturan yang mempersulit hidup. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari aturan yang mempersulit hidup orang, baik itu bagi warga negara asing bahkan lokal.

Sejarah menunjukkan, negara yang kerap menutup diri dan anti dengan interaksi global akan tertinggal dari pembangunan. Dan tidak pantas bagi bangsa ini untuk mengulangi kesalahan yang dilakukan bangsa di lain tempat dan abad, sepanjang sejarah. Seharusnyalah kita semakin fokus berkarya dan mengakhiri kebisingan soal tenaga kerja asing.

 


TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0643 || diagnostic_web = 0.4707

Close [X]
×