kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.24%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.39%

Terbang

oleh Hendrika Y. - Managing Editor


Senin, 11 Mei 2020 / 11:20 WIB
Terbang
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Mckay Coppins, staf redaksi The Atlantic, media yang terbit dari Boston, menuliskan pengalaman naik pesawat, saat pandemi sekarang. Coppins harus pergi ke luar kota, akhir April 2020 lalu. Saat keluarga dan rekan-rekannya mendengar bahwa ia bepergian dengan pesawat, mayoritas iri. "Terbang tanpa ada anak-anak, sepertinya kayak surga," kata isterinya.

Bagi Coppins dan kalangannya, yang sudah selama beberapa minggu disiplin menerapkan work from home, sanitasi pribadi dan pembatasan sosial, terbang naik pesawat layaknya jeda, hiburan. Benarkah?

Ternyata, pengalaman Coppins sebaliknya. Begitu boarding, terjadi kekacauan biasa, seperti sebelum korona, yakni penumpang berdesakan cari kursi. Boro-boro mau pembatasan fisik. Coppins mendapati kursinya berdekatan dengan penumpang lain. "Duduk sana!" perintah si penumpang sembari menunjuk kursi yang jauh. "Pembatasan sosial!" Coppins menurut. Sesaat kemudian, dia disuruh kembali ke kursi sesuai nomor oleh pramugari.

Hal-hal tersebut, bisa jadi dialami penumpang maskapai penerbangan domestik yang mulai dibuka sejak akhir pekan lalu. Sejauh ini, ada tiga maskapai yang melayani penerbangan. Sesuai aturan pemerintah, mereka menerapkan prasyarat dan protokol kesehatan bagi penumpang. Persyaratan berupa dokumen tersebut, akan diperiksa di bandara sebelum penumpang bisa check-in.

Beroperasinya beberapa maskapai ini, memang menolong sektor penerbangan. Seperti dirilis pada akhir April 2020 lalu, menurut hitungan INACA, bisnis penerbangan domestik terkena pukulan yang berat semasa pembatasan sosial akibat pandemi korona. Terjadi penurunan penumpang yang sangat signifikan. Selama Februari sampai April, tercatat kerugian Rp 1,2 triliun untuk penerbangan domestik dan Rp 1 triliun untuk internasional.

Maskapai yang terbang selama pandemi harus menaati beberapa hal prinsip, seperti penumpang hanya boleh 50% dari kapasitas. Sebelumnya, pemerintah menaikkan Tarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah tiket pesawat.

Kembali ke Coppins, setelah agak tegang soal kursi pesawat, pramugari menghampirinya. Ternyata, tiket Coppins di-upgrade ke Kelas Bisnis. Ia lega, terlebih dapat kursi dekat jendela. Ia langsung bersandar di kaca mengamati kesibukan bandara. Tapi, dengan segera sadar. "Waduh, ini jendela sudah disentuh berapa orang, ya?" pikirnya parno, sambil memakai hand sanitizer. Lantas, di mana surganya?

Penulis : Hendrika Y

Managing Editor



TERBARU
Terpopuler

[X]
×