Close
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.900
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS612.058 0,50%

Teruslah berharap rupiah tetap perkasa

Kamis, 13 September 2018 / 12:10 WIB

Teruslah berharap rupiah tetap perkasa



Sudah lebih dari dua pekan terakhir, rupiah terus bergerak menuju Rp 15.000 per dollar AS. Masyarakat mulai mengkhawatirkan kinerja ekonomi Indonesia. Para ekonom pun seakan tengah berlomba untuk menyampaikan hipotesa masing-masing. Sebagian kalangan membandingkan aksi pelemahan nilai tukar kali ini dengan sejarah kelam di medio 1997–1998, hingga terciptalah opini bernada pesimistis.

Sebagian lagi mengusung semangat optimistis dengan mengidentifikasi beberapa perbedaan indikator fundamental perekonomian baik skala global maupun domestik. Namun terlepas dari polemik yang tengah terjadi, berharap pada penguatan rupiah perlu dipahami sebagai hal logis. Statement inilah yang membedakan secara jelas antara kerangka berpikir ekonomi dengan agenda politik dalam mengkaji realitas yang tengah berlangsung.

Mengutip pandangan salah satu pakar keuangan internasional, fluktuasi nilai tukar satu mata uang merupakan kombinasi dari lima faktor utama; perubahan inflasi, suku bunga, tingkat pendapatan antara realitas di Amerika dengan situasi di Indonesia, perubahan pola pengendalian atas mata uang serta perubahan ekspektasi atas masa depan dari pergerakan nilai tukar mata uang tersebut.

Pada penelitian yang kami lakukan atas lima faktor itu teridentifikasi ekspektasi pasar memegang kendali utama dalam upaya penguatan rupiah. Fakta itu dipicu gaung pesta demokrasi tahun depan. Adu logika para ekonom dari kedua belah pihak nyata-nyata berhasil menciptakan riak kecil di antara pelaku bisnis. Meski masih dalam batasan wajar, silang pendapat ini mesti mengerucut pada satu titik kecintaan bangsa pada mata uang rupiah. Sebab jika tidak, maka aksi yang terjadi akan berpotensi memperburuk kinerja dalam jangka menengah.

Menyikapi kondisi tersebut, aksi yang dibutuhkan oleh bangsa kita saat ini adalah gerakan untuk lebih mencintai rupiah baik dari korporasi maupun rumah tangga. Sejenak marilah kita belajar dari krisis di Yunani yang diawali pada medio tahun 2010–2012. Merujuk pada catatan salah satu kantor berita internasional, krisis kala itu diawali dengan kuatnya kekhawatiran ketidakmampuan negara melunasi utang yang akan jatuh tempo. Selain itu, muncul juga wacana agar pemerintah kembali ke mata uang sebelum era pemberlakuan euro.

Opini ini spontan membuat para investor yang memegang investasi berdenominasi Euro kalang-kabut. Pada situasi yang cukup chaos ini, tensi politik akan terus menguat. Alhasil fakta itulah yang membuat aliran dana asing keluar dari Yunani bahkan sebelum lonceng krisis berbunyi nyaring.


TERBARU
MARKET
IHSG
-7,92
5.874,30
-0.13%
 
US/IDR
14.893
0,19
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

×