kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45921,24   0,46   0.05%
  • EMAS951.000 -0,21%
  • RD.SAHAM 1.12%
  • RD.CAMPURAN 0.52%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Tetap Optimistis

oleh Barratut Taqiyyah Rafie - Redaktur Pelaksana


Jumat, 06 November 2020 / 13:09 WIB
Tetap Optimistis
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Indonesia resmi mengalami periode resesi. Kamis (5/11/2020), Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi di periode Juli 2020 hingga September 2020 minus 3,49% yoy. Menurut hitungan BPS, secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia dari kuartal I hingga kuartal III-2020 mengalami kontraksi 2,03%.

Pada kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus sangat dalam, yakni 5,32% yoy akibat pandemi Covid-19. Dengan demikian, sudah dua kuartal berturut-turut Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami kontraksi. Alhasil, resmi sudah ekonomi Indonesia masuk ke jurang resesi.

Kendati demikian, investor sepertinya mengabaikan kondisi ini. Sebagai bukti, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melejit pada penutupan kemarin. Data RTI menunjukkan, IHSG naik 3,04% menjadi 5.260 di akhir perdagangan. Tak hanya itu, rupiah juga perkasa dengan ditutup di level 14.380 per dollar AS. Artinya, rupiah melonjak 1,27% dalam sehari.

Ini merupakan sinyal, bahwa investor masih optimistis terhadap aktivitas perekonomian Indonesia ke depannya. Seorang analis di sebuah sekuritas lokal mengatakan kepada KONTAN, lonjakan IHSG dipicu oleh data PDB kuartal III-2020 yang sesuai ekspektasi.

Sebab secara kuartalan, ekonomi RI sudah tumbuh sebesar 5,05%. Dia juga bilang, saat ini pelaku pasar lebih fokus pada progres pemulihan ekonomi di kuartal IV-2020.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, pertumbuhan kuartal III yang lebih baik ini ditunjukkan karena adanya proses perbaikan ekonomi atau pembalikan arah (turning point) dari aktivitas ekonomi nasional.

Dari faktor eksternal, hijaunya pasar saham terkerek oleh sentimen Pilpres AS yang berjalan kondusif sehingga bisa menjadi pendongkrak pergerakan pasar saham global. Di tengah kondisi resesi seperti saat ini, kita semua bisa belajar dari optimisme investor.

Resesi memang menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat karena dampak negatif yang ditimbulkan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bisnis yang gulung tikar, merupakan sejumlah dampak negatif dari resesi.

Namun, di balik itu semua, resesi juga memiliki dampak positif. Salah satunya, peluang bagi masyarakat untuk memulai usaha baru. Selalu ada peluang dalam setiap kesusahan, dan dalam setiap kesusahan selalu ada kemudahan.

Jadi, tetap optimistis!

Penulis : Barratut Taqiyyah Rafie

Redaktur Pelaksana




TERBARU
Corporate Valuation Model Managing Procurement Economies of Scale Batch 5

[X]
×