kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45788,56   1,37   0.17%
  • EMAS1.011.000 -0,10%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.11%

Tidak Ada Pil Ajaib

oleh Barly Halim Noe - Managing Editor


Senin, 05 Oktober 2020 / 12:03 WIB
Tidak Ada Pil Ajaib
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Para raksasa produsen vaksin dunia terus berlomba-lomba menemukan vaksin pelawan corona virus disease 2019 (Covid-19). Cansino dan Sinovac dari China, Moderna dan Pfizer dari Amerika Serikat, Galameya Rusia, Astra Zeneca Inggris hingga Bio Farma dari Indonesia tengah bergelut dan meracik formula vaksin.

Namun sejauh ini belum ada satu produsen pun yang berhasil meracik ramuan vaksin secara purna. Mereka masih harus mengujicoba dan menakar aspek klinis guna memastikan keampuhan maupun efek samping dari vaksin yang mereka bikin.

Kehadiran vaksin memang digadang-gadang sebagai harapan terbesar untuk mengakhiri pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung tujuh bulan. Tidak ada hal yang paling diharapkan oleh penduduk bumi saat ini selain vaksin korona. Vaksin ibarat mukjizat terbesar bagi peradaban manusia modern abad ini.

Namun demikian, yang perlu kita sadari, vaksin bukanlah magic pill atau obat ajaib yang serta-merta memusnahkan virus Covid-19 dari muka bumi. Vaksin hanya satu dari sekian banyak komponen untuk mencegah wabah korona.

Jika waktunya tiba, kehadiran vaksin hanya bisa efektif menangkal korona bila didukung oleh sejumlah kondisi lain. Mulai dari kemampuan pemerintah menjalankan strategi kebijakan pencegahan Covid-19, hingga dukungan perilaku dan kesadaran masyarakat.

Pemerintah Indonesia, misalnya, sudah berupaya membuat kebijakan untuk mencegah penyebaran korona maupun strategi penanganan efek Covid-19. Bahkan boleh dibilang kebijakan yang disusun sudah komprehensif, meliputi aspek sosial, kesehatan, hingga dukungan anggaran. Dalam tataran teknis, berbagai kebijakan itu antara diwujudkan dalam bentuk penambahan kapasitas ruang isolasi, aksi tes massal secara agresif, hingga penyaluran program bantuan sosial serta alokasi dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Memang, masih ada kekurangan dan kelemahan dalam penerapannya. Sebagai contoh, konsistensi dan ketegasan pemerintah menegakkan disiplin protokol kesehatan cenderung angin-anginan. Kemampuan mengkomunikasikan dan mensosialisasikan strategi penanganan Covid-19 juga acap dinilai kendor. Alhasil, kita berharap, pemerintah segera memperbaiki kelemahan tersebut.

Di lain sisi, masyarakat, termasuk kita, juga harus lebih disiplin lagi mematuhi standar pencegahan Covid-19. Minimal patuh terhadap tiga hal dasar dalam gerakan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, serta mencuci tangan.

Oleh karena itu, kita khawatir, misalnya, dengan agenda demonstrasi dan pengerahan massa dalam jumlah besar di saat pandemi. Juga mobilisasi massa dalam pilkada yang nyata-nyata melanggar ketentuan 3M. Kecenderungan kita meremehkan hal kecil (3M) seringkali memicu malapetaka yang lebih besar.

Di sinilah ketegasan pemerintah dan aparat untuk menegakkan aturan diperlukan. Juga harus ada kemauan kuat dari seluruh komponen masyarakat untuk menekan egonya.

Sekali lagi, vaksin bukanlah obat ajaib yang seketika mengakhiri pandemi. Kunci keberhasilan meredam pandemi juga bukan berada di tangan dokter ahli, pakar kesehatan, pabrik farmasi maupun produsen vaksin dunia. Malapetaka gigantik ini hanya bisa diatasi hanya jika semua pemangku kepentingan bahu membahu, seirama dan sejalan mematuhi aturan.

Penulis : Barly Halim Noe

Managing Editor



TERBARU

[X]
×