kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Titik awal superioritas tekfin


Kamis, 18 April 2019 / 14:48 WIB

Titik awal superioritas tekfin

Berita akuisisi saham perbankan oleh pemain financial technology (fintech) alias teknolgi finansial (tekfin), Maret 2019, terbilang sukses menyita perhatian pelaku jasa keuangan. PT Pintar Inovasi Digital atau Akulaku resmi jadi pemegang saham Bank Yudha Bakti dengan kepemilikan saham 8,9%. Tak heran, aksi korporasi ini berhasil mematahkan stigma lama terkait hegemonitas perbankan atas tekfin. Pemain tekfin sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Tentu masih segar dalam benak kita bagaimana agresivitas perbankan yang berhasrat mengembangkan lini bisnis tekfin beberapa waktu lalu. Dalam riset bertajuk "The Future-Proof Digital Bank" (2016), IDC Financial Insight menyurvei sebanyak 265 bank di 24 negara, untuk menelusuri bagaimana cara mereka melakukan transformasi digital. Salah satu temuannya ialah satu dari empat (25%) bank global mempertimbangkan untuk melakukan akuisisi tekfin.

Dari dalam negeri, sejumlah bank raksasa lokal dikabarkan rela merogoh kocek cukup dalam demi merealisasikan agenda tersebut. Skenarionya pada tahap awal perbankan mengakuisisi atau membentuk anak usaha modal ventura. Berikutnya modal ventura memberikan pendanaan kepada tekfin untuk ditukarkan dengan kepemilikan saham.

Contoh riil dari argumen ini bisa dilihat pada Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mengakuisisi BRI Ventures dan Bank Mandiri dengan anak usaha modal ventura, Mandiri Capital. Namun, aksi akuisisi semacam ini sudah tidak lagi dimonopoli oleh perbankan. Tekfin juga memiliki kesempatan yang sama. Secara historis, aksi akuisisi pelaku jasa keuangan konvensional oleh tekfin bukanlah pertama kalinya di Indonesia. Sebelum Akulaku, LINE Corporation sudah terlebih dahulu menggenggam saham perbankan Indonesia pada akhir tahun 2018.

Melalui anak usahanya LINE Financial Asia, perusahaan asal Negeri Sakura ini mengambilalih 20% saham Bank KEB Hana Indonesia. Dalam siaran persnya, LINE berniat menghadirkan layanan transfer uang di Indonesia lewat aplikasi pengirim pesan.

Mencermati pemberitaan di sejumlah media, pemain tekfin lainnya juga dilaporkan berencana mengikuti langkah serupa. Sebut saja PT FinAccel Teknologi Indonesia alias Kredivo yang digadang-gadang akan mengakuisisi perusahaan pembiayaan tahun ini.

Manajemen Kredivo menegaskan langkah ini bertujuan agar Kredivo memperoleh lisensi sebagai multifinance. Upaya tersebut cukup vital sebagai strategi anorganik Kredivo untuk mendongkrak target penyaluran kredit dalam jangka panjang.

Berkaca dari sisi ukuran usaha, kekuatan finansial Akulaku dan Kredivo memang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Tech in Asia menempatkan kedua tekfin tersebut masuk dalam jajaran sepuluh besar tekfin dengan pendanaan terbesar di Asia Tenggara.

Bahkan, Akulaku menduduki peringkat teratas dengan total pendanaan US$ 145 juta, sementara Kredivo di urutan 10 (US$ 30 juta). Bermodal pundi melimpah, praktis proses akuisisi dua pemain tekfin bukanlah perkara sulit.

Menariknya, manuver yang diinisiasi Akulaku tersebut telah mencuatkan sebuah fenomena kolaborasi baru. Kerja sama perbankan dengan tekfin kini tidak lagi hanya berkutat pada skema pembiayaan bersama (joint financing), namun juga telah bergeser ke model satelit.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 0.1737

Close [X]
×