kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45754,18   -2,20   -0.29%
  • EMAS1.007.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Titik Balik Ekonomi?

oleh Khomarul Hidayat - Redaktur Pelaksana


Rabu, 02 September 2020 / 08:54 WIB
Titik Balik Ekonomi?
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Di tengah tekanan dan ancaman jatuh ke resesi ekonomi, ada sepercik kabar baik. Yakni data indeks manufaktur Indonesia yang kembali bangkit setelah terpuruk di kuartal II-2020 lalu.

Data terbaru, indeks manufaktur atau Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia dari IHS Markit merangkak naik lagi menjadi 50,8 pada bulan Agustus 2020 dari level 46,9 pada bulan sebelumnya. Ini kali pertama, indeks manufaktur Indonesia kembali ke level ekspansif sejak sejak Februari 2020 atau sejak wabah korona merebak.

Kenaikan indeks manufaktur ini agaknya tak lepas dari kebijakan pemerintah yang melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sehingga pabrik-pabrik kembali membuka operasionalnya secara bertahap. Plus, tentu saja pesanan baru yang meningkat.

Bangkitnya indeks manufaktur tersebut membawa harapan pemulihan ekonomi di kuartal III ini, meski ancaman resesi ekonomi membayangi. Kendati membaik dan kembali ke level ekspansi, sebetulnya industri manufaktur masih dihadapkan pada tantangan berat, yaitu lemahnya permintaan.

Angka deflasi sebesar 0,05% di bulan Agustus 2020 menggambarkan masih lemahnya daya beli masyarakat. Ekonomi Indonesia yang memburuk membuat masyarakat mengerem belanja atau konsumsi dan imbasnya ke permintaan barang manufaktur yang melemah.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terkontraksi alias minus 5,32% di kuartal II2020 mengonfirmasi fakta-fakta tersebut. Pada kuartal II lalu, konsumsi rumahtangga yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia, tumbuh negatif 5,51% year on year.

Bayang-bayang resesi ekonomi akibat wabah korona makin menjadi juga menambah tekanan bagi industri manufaktur. Itu pula sebabnya, di kuartal III2020 ini pemerintah mengeluarkan aneka kebijakan untuk memperkuat daya beli masyarakat yang menjadi akar masalah ekonomi tidak tumbuh dan industri manufaktur susah berkembang.

Mulai dari mempercepat pencairan ragam bantuan sosial, gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara, hingga subsidi gaji bagi pegawai swasta bergaji di bawah Rp 5 juta sebulan.

Membangkitkan geliat industri manufaktur ini penting. Dengan kontribusi per kuartal II 2020 sebesar 20% terhadap produk domestik bruto dan serapan tenaga kerja 18,5 juta orang, sektor manufaktur punya peran sangat penting bagi ekonomi Indonesia. Semoga, perbaikan ini jadi titik balik bagi Indonesia.

Penulis : Khomarul Hidayat

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×