kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45858,94   -4,22   -0.49%
  • EMAS820.000 -10,87%
  • RD.SAHAM -1.01%
  • RD.CAMPURAN -0.38%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Tujuan Uang Digital

oleh Thomas Hadiwinata - Redaktur Pelaksana


Rabu, 02 Juni 2021 / 11:11 WIB
Tujuan Uang Digital
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Gagasan tentang uang digital sudah muncul, paling tidak sejak dekade 1990-an. Saat internet menghubungkan berbagai tempat di penjuru dunia, dunia mencatat kehadiran alat tukar dalam bentuk digital.

Kebutuhan akan uang digital muncul mengiringi gagasan pembentukan pusat dagang dalam jaringan, alias e-commerce. Belakangan konsep uang digital kian luas, hingga muncul cryptocurrency.

Terminologi ini merujuk ke uang yang tidak berhubungan dengan negara atau yurisdiksi manapun. Uang kripto dengan nilai kapitalisasi terbesar saat ini, yaitu bitcoin, meluncur pada 2009.

Rujukan tentang uang digital bertambah lagi, dengan kehadiran uang digital bank sentral atau central bank digital currency (CBDC). Berbeda dengan uang kripto, apalagi uang yang ada di aplikasi pembayaran, CBDC tak ubahnya uang kertas atau koin yang sudah lama diedarkan bank sentral.

Di beberapa negara, seperti China, uang digital bank sentral sudah beredar dalam skala terbatas. Dan di banyak negara, bank sentral kini meneliti tentang kemungkinan penerbitan uang digital.

Apa yang menyebabkan bank sentral merasa perlu memanfaatkan teknologi digital dalam penerbitan uang? Jawabnya tercermin dari tujuan bank sentral itu sendiri dalam menerbitkan uang digital.

Seperti dikutip kontan.co.id pada Februari silam, Erwin Haryono, juru bicara Bank Indonesia (BI), bertutur, alasan bank sentral di negara berkembang mengembangkan uang digital adalah meningkatkan efisiensi sistem pembayaran dan keuangan inklusif serta mitigasi shadow banking. Tujuan semacam itu ditegaskan lagi oleh BI via unggahan di media sosialnya, akhir Mei lalu. Menyimak keterangan semacam itu, yang terbayang adalah rupiah digital akan diterbitkan, misal, untuk program bantuan sosial pemerintah.

Namun apapun skema peluncuran uang digital yang akan dipilih BI, urusan teknis, seperti mencegah peretas mengedarkan uang palsu adalah tugas yang penting, namun bukan satu-satunya.

BI juga perlu berupaya merangkul banyak pihak untuk memanfaatkan uang digital, hingga sistem pembayaran bisa lebih efisien dan inklusif. Selain perbankan dan penyedia jasa yang sudah bermain di sistim pembayaran, mereka yang memiliki infrastruktur teknologi juga harus diajak kerjasama. Tanpa upaya perluasan jaringan telekomunikasi, uang digital ya hanya akan berputar-putar di situ-situ saja.

Penulis : Thomas Hadiwinata

Redaktur Pelaksana




TERBARU
Kontan Academy
Panduan Cepat Pendalaman Strategic Thinking Sukses Berkomunikasi: Mempengaruhi Orang Lain Batch 2

[X]
×