kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Uber dan IPO perusahaan merugi


Kamis, 02 Mei 2019 / 14:05 WIB

Uber dan IPO perusahaan merugi


Uber segera melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di bursa Amerika Serikat (AS). Dengan valuasi sekitar US$ 100 miliarUS$ 120 miliar, IPO Uber bisa menjadi nilai IPO perusahaan rintisan atau startup bidang teknologi informasi (IT) tertinggi dalam sejarah.

IPO Uber menjadi sangat luarbiasa, mengingat kerugiannya juga terbesar dalam sejarah startup IT. Di 2018, kerugian operasional Uber sekitar US$ 3,7 miliar. Sedangkan rugi operasional Uber pada 2016 dan 2017 masing-masing US$ 3 miliar dan US$ 4,5 miliar. Setelah berdiri 10 tahun (sejak 2009), akumulasi kerugian Uber lebih dari US$ 12,5 miliar.

Salah satu alasan valuasi Uber sangat tinggi karena dianggap memiliki keunggulan seperti perusahaan teknologi Amazon, Facebook, dan Google. Namun, perbandingan kinerja keuangan Amazon, Facebook, dan Google dengan Uber menunjukkan perbedaan yang sangat jauh.

Amazon mencapai laba pertama di 2003 sebesar US$ 35 juta (sekitar 9 tahun setelah didirikan pada 1994), dengan pendapatan sebesar US$ 5,3 miliar. Google untung sekitar US$ 7 juta di 2001, tiga tahun setelah berdiri (1998), dengan pendapatan hanya US$ 86 juta. Facebook menghasilkan untung pada 2009 dengan nilai sekitar US$ 230 juta, sekitar lima tahun setelah berdiri. Saat itu pendapatan Facebook mencapai US$ 777 juta. Ketiga perusahaan IT unggulan ini mencapai laba dalam waktu kurang dari 10 tahun setelah berdiri, dengan pendapatan yang jauh lebih kecil dari Uber.

Pendapatan Uber di 2018 mencapai US$ 11,3 miliar. Saat Amazon, Google, dan Facebook memiliki pendapatan di atas US$ 10 miliar, laba masing-masing perusahaan mencapai US$ 190 juta, US$ 3,1 miliar, dan US$ 2,9 miliar. Bandingkan juga dengan kinerja keuangan Airbnb (berdiri 2008). Pada 2017, Airbnb memperoleh pendapatan "hanya" US$ 2,6 miliar dan untung US$ 100 juta.

Ada yang menganggap kerugian ini bagian dari strategi investasi Uber untuk mencapai skala ekonomi dan efek jejaring (network effect) pengguna aplikasinya. Sehingga, mereka bisa memonopoli pasar. Lagi-lagi mitos strategi monopoli terbantahkan ketika Uber kalah bersaing dan terpaksa keluar dari berbagai pasar strategis, seperti China (2016), Rusia (2017), dan Asia Tenggara (2018).

Saat ekspansi agresif, kerugian Uber meningkat tajam. Tapi, kala Uber keluar dari pasar strategis (China, Rusia, dan Asia Tenggara), kerugian Uber tetap besar. Ini mengindikasikan, tidak ada skala ekonomi, yakni total biaya per unit menurun sejalan dengan meningkatnya skala usaha di bisnis transportasi taksi ala Uber.


Reporter: Harian Kontan
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0030 || diagnostic_api_kanan = 0.0024 || diagnostic_web = 0.2310

Close [X]
×