| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.362
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS606.004 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Untung rugi memblokir Facebook

Selasa, 24 April 2018 / 14:06 WIB

Untung rugi memblokir Facebook

Facebook masih perlu

Telepon seluler, misalnya, dipercaya telah membantu negara berkembang dan memfasilitasi inklusi digital dengan biaya yang lebih murah dan proses yang lebih cepat. Studi yang dilakukan Caselli dan Coleman (2001) melihat dampak dari adopsi komputer dan menunjukkan bahwa difusi ini telah membantu peningkatan kualitas sumber daya manusia dan berkembangnya sektor jasa sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Dampak ekonomi juga teridentifikasi dari difusi internet peta lebar (broadband); studi dari Crandall dan Jackson (2001) di Amerika Serikat memperkirakan penggunaan broadband telah menyumbang tambahan output ekonomi US$ 500 miliar.

Lantas, apakah terdapat manfaat ekonomi dari platform media sosial untuk para pengguna?

Facebook sendiri telah menjelma sebagai salah satu perusahaan IT terbesar di dunia. Berdasarkan R&D Investment Scoreboard-sebuah laporan berisi data operasional perusahaan yang dirilis Komisi Eropa pada 2017, Facebook mencatat nilai penjualan 26,2 miliar dan laba sebesar 11,8 miliar pada 2016–2017. Ini setara dengan hampir seperempat total penerimaan APBN 2018. Dengan jumlah karyawan 17.000, laba rata-rata per karyawan Facebook sekitar 691.000 adalah setara dengan PDB per kapita seperempat juta penduduk Indonesia.

Namun, apakah Facebook juga telah berkontribusi dalam mengubah pola hidup masyarakat di Indonesia secara ekonomi.

Sulit sekali menjawab pertanyaan di atas di tengah basis sumber data yang sangat terbatas. Namun, satu survei indikatif tahun 2017 oleh LIRNEasia think tank yang berfokus pada kebijakan dan peraturan infrastruktur TIK yang berpusat di Kolombo- bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana sebenarnya masyarakat Indonesia memiliki persepsi tentang Facebook dan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Survei yang didanai Ford Foundation itu tidak mengklaim data yang dikumpulkan menggambarkan kondisi Indonesia secara representatif. Tapi, beberapa indikasi menarik tetap dapat diambil.

Sampel survei mencakup 1.206 rumah tangga di seluruh Indonesia melingkupi kelompok pengguna dan non pengguna telepon seluler dan Internet. Di antara pengguna internet, 63% menyatakan mereka menggunakan Internet untuk mengakses media sosial (termasuk Facebook), 14% untuk kegiatan pekerjaan dan 6% untuk pendidikan. Lebih dari setengah pengguna media sosial memiliki jaringan lebih dari 500 di akun media sosial mereka dengan 86% menggunakan media sosial ini secara rutin setiap hari.

Untuk responden yang kebetulan memiliki usaha kecil, 85% menggunakan media sosial untuk memasarkan produk. Ini cukup menarik mengingat UKM adalah satu skeleton dari perekonomian Indonesia yang menyumbang 60% PDB dan 90% penyerapan tenaga kerja tahun lalu. Temuan ini menyiratkan bahwa platform media sosial seperti Facebook mulai memfasilitasi munculnya kegiatan ekonomi di Indonesia.

Dari aspek politik, hanya 20% dari responden mengekspresikan pandangan politik mereka secara publik melalui media sosial. Sementara sepertiga pengguna media sosial yang disurvei setuju penggunaan media sosial telah memicu perbedaan, lebih dari separuh mengatakan mereka tidak akan unfriend atau unfollow rekan mereka hanya karena perbedaan politik. Temuan lain, dari 58 responden yang melaporkan mengalami kekerasan di media sosial, hanya sebagian kecil (2%) karena aspek politik.

Tentu saja, analisis ini memiliki kemampuan generalisasi yang terbatas, sehingga studi yang lebih mendalam memakai data nasional yang representatif sangat diperlukan. Sebagai temuan awal, survei ini menunjukkan pemblokiran Facebook di Indonesia bukan merupakan kebijakan yang tepat.

Sebab,pertama, pengguna di Indonesia mulai bisa memakai platform media sosial ini secara produktif dan menarik nilai ekonomi dari jaringan yang ada. Kedua, kekhawatiran penggunaan media sosial yang bisa mempengaruhi persepsi dan menggiring opini publik masyarakat secara luas tidak begitu berdasar. Ketiga, pengalaman di Sri Langka menunjukkan pemblokiran Facebook bukan merupakan solusi efektif jika ketakutan terhadap dampak berputarnya hoaks dan fake news jadi pertimbangan.

Walaupun terkesan klise, solusi paling efektif dari permasalahan ini tetap pada upaya preventif. Untuk menjaga hak digital warga negara Indonesia.



Komentar
TERBARU
MARKET
IHSG
-43,65
5.861,51
-0.74%
 
US/IDR
14.391
-0,03
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

Close [X]
×