Close
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.900
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS612.058 0,50%

Urgensi hilirisasi mineral pertambangan

Jumat, 19 Januari 2018 / 15:45 WIB

Urgensi hilirisasi mineral pertambangan



Laju pertumbuhan ekonomi nasional hingga kini masih bergeming di angka 5%. Padahal, iklim investasi sejatinya sudah mulai sangat kondusif. Hal ini tercermin dari apresiasi yang diberikan sejumlah lembaga internasional. Misalnya, laporan Ease of Doing Business 2018 yang dirilis Bank Dunia menyebutkan, tingkat kemudahan berbisnis Indonesia melompat secara tajam ke peringkat 72 pada 2017 dari sebelumnya 91 pada 2016.

Artinya, dalam dua tahun terakhir, peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia mengalami kenaikan 34 peringkat. Dalam Global Competitiveness Index 2017-2018 pun peringkat Indonesia naik dari ranking 41 pada 2016 menjadi rangking 36 pada tahun 2017. Indonesia juga telah menggenggam predikat investment grade dari Moody's Investor Service, Standard & Poor (S&P), dan Fitch Ratings.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi nasional rasanya masih sulit untuk menembus angka 6-7% di masa mendatang. Ada sejumlah alasan yang melatarbelakangi argumen tersebut. Misalnya saja, kinerja pertumbuhan ekonomi masih sangat tergantung terhadap laju pertumbuhan sektor rumah tangga (RT) yang terlihat dari tingginya kontribusi sektor ini terhadap PDB.

Di sisi yang lain, kinerja sektor manufaktur juga melempem. Data BPS menunjukkan, kontribusi sektor manufaktur terus merosot dari 20,48% pada triwulan I-2017 menjadi hanya 19,93% pada triwulan III-2017. Ironisnya lagi, dalam sepuluh tahun terakhir, laju pertumbuhan industri manufaktur selalu di bawah angka pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, jika Indonesia ingin mencapai angka pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, maka  industrialisasi menjadi sebuah keniscayaan. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kebijakan dan strategi industrialisasi yang sistematis, terukur, dan saling terkoneksi dari hulu ke hilir.

Terkait hal ini, Ha-Joon Chang, ekonom dari Universitas Cambridge, menyatakan bahwa kebijakan industrialisasi suatu negara perlu menimbang beberapa hal. Pertama, sumber daya alam. Tiap negara perlu mengidentifikasi sumber daya alam yang dimilikinya karena sumber daya alam merupakan modal dasar dalam pembangunan industri.

Kedua, sumber daya manusia. Negara diharuskan melihat kuantitas dan kualitas angkatan kerja apakah di dominasi oleh mereka yang berpendidikan dan berketerampilan rendah atau sebaliknya.

Ketiga, keunggulan produsen domestik. Kapabilitas produsen dalam negeri tak kalah pentingnya karena akan sangat menentukan keunggulan komparatif dan kompetitif suatu negara dalam suatu sistem perdagangan internasional yang lebih terbuka. Keempat, kondisi pasar internasional dan regional. Kemampuan pembacaan atas kondisi pasar global dan regional secara tepat dibutuhkan untuk memitigasi risiko.

Atas dasar itu, maka pengembangan industri yang memiliki keterkaitan dengan sumber daya alam menjadi kata kunci dalam menjalankan industrialisasi yang berkelanjutan terutama bagi negara yang memiliki kandungan sumber daya alam yang melimpah. Model industrialisasi seperti ini terbukti sukses diadopsi negara-negara Skandinavia.

Sayang, kondisi ini kontras dengan pengalaman Indonesia. Sumber daya alam Indonesia cenderung menjadi sumber pemicu konflik sosial ketimbang menjadi sumber pemerataan kesejahteraan. Hingga saat ini, masyarakat miskin dan perdesaan terutama mereka yang tinggal di Kawasan Indonesia Timur (KIT) hanya menjadi penonton dari kegiatan industri ekstraktif yang tengah beroperasi di wilayah mereka.

Atas dasar itu, maka pengembangan industri yang memiliki keterkaitan dengan sumber daya alam sudah selayaknya menjadi program quick wins dalam road map industrialisasi. Dalam konteks ini, hilirisasi industri berbasis sumber daya alam penting dikedepankan karena selain memberikan nilai tambah yang lebih tinggi juga akan menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas hingga menjadikan struktur industri manufaktur domestik lebih kompetitif.


TERBARU
MARKET
IHSG
-7,92
5.874,30
-0.13%
 
US/IDR
14.893
0,19
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

×