Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.140
  • EMAS682.000 0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Urgensi pendidikan investasi

Jumat, 03 Mei 2019 / 11:55 WIB

Urgensi pendidikan investasi

PR pendidikan investasi

Di tengah geliat dunia investasi di Tanah Air, ada saja orang yang masih memandangnya sebelah mata. Sebagai guru saya beberapa kali berhadapan dengan orang atau siswa yang bereaksi pesimistis dan malah cenderung negatif terhadap investasi.

Ada yang menganggap investasi saham sebagai judi yang dilegalkan. Ada juga yang menganggap bahwa berinvestasi di perusahaan yang merugikan masyarakat atau mencemari lingkungan berarti turut dalam praktik yang sama.

Padahal, investasi bukanlah judi. Dengan berinvestasi, investor dapat turut memajukan suatu perusahaan yang tengah melakukan ekspansi.

Kemudian, bila memiliki ideologi atau pandangan tentang perusahaan yang merugikan kesehatan masyarakat, itu pun dapat dihindari. Ada 600 lebih perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan seorang investor dapat memilih perusahaan mana yang sesuai dengan prinsip-prinsip pribadi yang dia anut.

Untuk itu, seorang investor perlu mengetahui jeroan perusahaan tempat dia menanamkan modalnya, bergerak di bidang usaha apa, bagaimana manajemen dan pengelolaannya, apakah laporan keuangannya mencerminkan kinerja pertumbuhan atau kemerosotan, dan sebagainya. Sebagai perusahaan terbuka, data-data ini disajikan transparan.

Untuk mengetahui bahwa perusahaan yang kita tanam modal adalah perusahaan yang menjanjikan, perlu ada edukasi yang memadai. Edukasi ini bisa dimulai sejak anak masih kecil. Mungkin Anda tidak asing dengan nama Warren Buffett, investor kenamaan asal Amerika Serikat (AS). Dia berinvestasi sejak berumur 11 tahun, menulis beberapa buku yang sampai sekarang menjadi rujukan para investor.

Buku-buku Warren Buffett mengarahkan pembaca untuk menjadi seorang investor yang berorientasi pada fundamental perusahaan. Orientasi ini membuat para investor berinvestasi cukup lama di suatu perusahaan, mungkin bisa memakan waktu beberapa tahun.

Bila Anda pernah melakukan jual-beli saham dalam jangka pendek, atau yang umumnya disebut trading saham, Anda tentu tahu bahwa saat yang paling tepat untuk membeli saham adalah ketika harganya sedang turun, dan saat menjualnya adalah ketika sedang naik. Masalahnya, tidak sedikit saham yang harganya bergerak tak terduga. Harga yang kita nilai sudah turun, membuat kita membelinya, bisa turun lebih dalam.

Sebaliknya, ketika harganya naik, kita tak tahu akan terus naik atau malah berbalik arah. Benar-benar bisa membeli saham di harga yang rendah dan menjualnya di harga yang tinggi dalam suatu kurun waktu tertentu membutuhkan kecermatan tinggi.

Warren Buffett sendiri pernah mengisahkan tentang saham yang dibelinya saat masih berumur belasan tahun. Ia membeli saham Cities Service Preferred di harga US$ 38. Saham itu turun ke harga US$ 27 kemudian. Ketika harganya naik lagi, mencapai angka US$ 40, Warren menjualnya, mendapat keuntungan 5%. Namun, ia terkejut, sekaligus menyesal, saham itu terus bergerak naik hingga mencapai US$ 200 dalam waktu yang tidak lama.

Karena itulah, edukasi tentang penilaian harga yang wajar saham di suatu perusahaan menjadi penting. Selain itu, yang lebih mendesak dan mendasar pada saat ini adalah membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya berinvestasi. Kesadaran ini pun dapat dibangun di sekolah, diintegrasikan dengan mata-mata pelajaran yang berhubungan dengan pekerjaan, membiasakan gaya hidup hemat, atau hitung-hitungan seperti IPS dan Matematika.

Erwin Edhi Prasetyo (dalam Indratno, 2007:105) menyatakan bahwa pendidikan formal memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi. Ia mencontohkan pengalaman Singapura dan Korea Selatan dalam permulaan pembangunan yang di samping membangun infrastruktur fisik juga membangun infrastruktur sumber daya manusia, yaitu sistem persekolahan dan pelatihan.

Pemerintah sedang menggiatkan pembangunan infrastruktur di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Tanpa dibarengi kecerdasan literasi dalam soal-soal keuangan, kemajuan infrastruktur tak lengkap, bahkan sia-sia.

Pada bangsa ini, pembangunan infrastruktur manusia, atau bisa juga disebut revolusi mental, masih berjalan setengah hati. Masih banyak orang yang tergiur akan kekayaan yang besar dan diraih dengan cara-cara yang instan, misalnya korupsi.

Pendidikan mengambil peran penting agar siswa sadar bahwa kekayaan perlu diraih dengan bekerja dan perencanaan.

Pemerintah telah sering mengatakan kerja, kerja, kerja. Namun, kalau uang dari hasil kerja keras hanya habis untuk memuaskan gaya hidup konsumtif, percuma juga.♦

Sidik Nugroho
Guru, Penulis Lepas, dan Praktisi Pasar Modal


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Terpopuler
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.0504 || diagnostic_web = 0.2981

Close [X]
×