Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.185
  • EMAS658.000 0,30%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Utang sebagai semangat zaman

Jumat, 12 April 2019 / 14:45 WIB

Utang sebagai semangat zaman

Bukan cuma makanan, utang pun kini juga cepat saji. Money at your finger tip makin menjadi kebiasaan teknologi finansial (tekfin) masyarakat. McDebt sebutlah begitu, meminjam nama gerai restoran cepat saji. Dalam bahasa politik, nasabah post truth lebih berani dan permisif berutang dibandingkan dengan masyarakat di masa lalu. Keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam memutuskan berutang dibanding kesepakatan komunitas.

Dulu, jika orang tidak punya uang, mereka memilih menahan beli kebutuhan-keinginan. Berutang dipandang aib, kalah, tidak merdeka, budak, dan buruk. Komitmen menabung di celengan ayam lebih jadi pilihan sampai jumlah yang bisa membiayai kebutuhan-keinginan itu. Milenial bisa jadi lebih percaya diri dan teraduk emosi (why not, apa salahnya, kapan lagi, mumpung ada kesempatan), tak heran moneylenials menyambut dengan tangan terbuka utang cepat saji tersebut untuk Kebutuhan-keinginan yang harus diwujudkan sekarang.

Utang cepat saji menjadi cara instan tanpa harus mempertimbangkan kesepakatan komunitas ihwal utang yang biasanya merujuk pada nilai-nilai budaya dan agama. Sekularisasi finansial berupa utang cepat saji menjadi keniscayaan baru. Ia menjadi semangat zaman, tepatnya jiwa zaman (the spirit of the age).

Adalah William Hazlitt (1778-1830) Puritan Inggris dalam buku klasiknya The Spirit of the Age yang juga disebut Contemporary Portraits. Isinya kumpulan tulisan 25 tokoh yang diakui sebagai a vivid panorama of the age yang berusaha memotret isu-isu yang menjadi tren pada zamannya.

Isu berharga, penting dan menjiwai hidup masyarakat. Baik berupa ide-ide pemikiran, karya literatur dan seni, kebijakan politik, reformasi sosial, keputusan ekonomi, pedang hukum.

Dari tokoh lintas profesi, pemikir, pembaharu masyarakat, politisi, penyair, esais, novelis, ahli hukum, sejarawan, anggota parlemen, petani, sampai rohaniawan. Nama-nama Bentham, Godwin, Malthus, Irving, Wilberforce, Coleridge, Wordsworth dan banyak lagi. Sejak itu frase spirit of the age atau jiwa zaman jadi populer.

Kini istilah tersebut bermakna bebas sebagai apa yang paling dicari, diperebutkan, dipuja meski otomatis juga pasti menciptakan polemik, pro-kontra. Semangat zaman adalah tren apa saja yang tidak boleh ketinggalan untuk diikuti, dimiliki, dinikmati. Berada dalam euforia, lingkungan dan pengaruh semangat zaman dirasakan sebagai sebuah prestasi, kemajuan, kekinian. Di luar semangat zaman hanya ada keterbelakangan, kuno, stagnasi, mundur dan akan tergilas oleh roda.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0462 || diagnostic_web = 0.3962

Close [X]
×