kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45923,14   2,36   0.26%
  • EMAS951.000 -0,21%
  • RD.SAHAM 1.12%
  • RD.CAMPURAN 0.52%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Vaksin Covid-19

oleh Djumyati Partawidjaya - Redaktur Pelaksana


Jumat, 20 November 2020 / 16:42 WIB
Vaksin Covid-19
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Setelah hampir 10 bulan berjibaku dengan pandemik Covid-19 tentulah kita semua sangat menunggu datangnya kabar gembira: ditemukannya vaksin Covid-19.

Saat ini puluhan perusahaan farmasi di seluruh dunia tengah berlomba menemukan vaksin Covid-19. peluru perak yang mampu meredakan serangan pandemik Covid-19 kepada 7 miliar manusia di dunia.

Beberapa kabar menggembirakan sudah bermunculan, seperti misalnya dari Pfizer dan Moderna yang mengumumkan efektivitas vaksin yang dalam proses uji coba tahap 3 di atas 90%. Angka yang dianggap cukup bagus.

Tapi ada masalah besar dari vaksin temuan Phizer ini, yaitu tempat penyimpanannya harus bersuhu -70 celsius. Rasanya agak mustahil bisa mendistribusikan vaksin ini di seluruh Indonesia. Memang penyimpanan vaksin Moderna lebih masuk akal, yaitu di -20 celsius. Tapi masalahnya Indonesia masih belum menjalin kerjasama dengan kedua pabrik farmasi tersebut.

Indonesia hanya menjalin kerjasama dengan Sinovac dan Astra Zeneca. Beberapa pejabat tinggi kita memang ingin membuka kerjasama dengan kedua pabrik farmasi tersebut. Tapi kita semua tentu tahu ini tidak akan gampang.

Pfizer dan Moderna tentu mempunyai kapasitas produksi dan komitmen kepada para pembelinya. Tentu ada yang harus kita bayar untuk bisa menyelak nomor antrean itu.

Berburu vaksin sekarang ini memang seperti bermain judi. Pasar bebas membuat setiap negara sibuk sendiri. Negara-negara kaya tentu akan menjadi yang paling diuntungkan dalam perlombaan vaksin dunia ini. Sementara negara miskin bakal makin tertinggal jauh di belakang.

Ada begitu banyak negara yang terpuruk perekonomiannya. Mereka pun harus merogoh saku lebih dalam untuk membeli vaksin. Entah apakah semua pemimpin negara itu mampu membeli vaksin untuk rakyatnya? Tapi saya yakin tanpa dukungan negara kaya, negara miskin akan terpuruk dalam pandemik.

Kalau memakai asumsi harga vaksin Sinovac, Indonesia harus menyiapkan dana untuk vaksin minimal Rp 121,5 triliun (270 juta penduduk x Rp 450 ribu per paket). Apakah kita mampu? Mungkin sangat mampu, karena menurut Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan Indonesia sudah menolak banyak bantuan dari lembaga internasional.

Walau jalan masih cukup panjang, saya hanya berharap urusan vaksin bisa berjalan lebih baik, bukan menjadi barang bancakan untuk keuntungan kocek masing-masing.

Penulis : Djumyati Partawdijaya

Redaktur Pelaksana




Corporate Valuation Model Managing Procurement Economies of Scale Batch 5

[X]
×