kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Virus Impor

oleh Hendrika Yunapritta - Managing Editor


Selasa, 28 Januari 2020 / 06:13 WIB
Virus Impor
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Virus Korona dari Wuhan menyebar dengan cepat. Sampai Senin (27/1) kemarin, otoritas China mengumumkan ada 2.744 penderita, naik dari sebelumnya 1.975 penderita. Mereka juga masih meneliti 5.794 terduga pasien serta melacak 32.000 orang lain yang terhubung dengan para penderita. Pasien yang meninggal mencapai 80 orang.

Di Amerika Serikat kemarin juga ditemukan lima pasien yang positif terpapar virus Korona ini. Wajar jika kita di Indonesia juga cemas dan berjaga-jaga. Saat-saat ini, virus kecemasan itu sepertinya menyebar lebih cepat ketimbang korona. Saking parno-nya, kalau pakai bahasa sekarang, ada orang tidak mau makan buah impor dari China. Pasalnya, mereka khawatir buah tersebut sudah terpapar virus dan bisa tertular jika dimakan. Salah satu yang sedang dijauhi ini adalah jeruk santang, yang memang banyak dijual sepanjang masa Imlek. Jeruk jenis ini sudah terkenal diimpor dari China. Padahal, kalau niat mau pantang segala makanan impor dari sana, seharusnya kita bisa bikin daftar yang panjang, bukan cuma jeruk santang saja. Kita tahu ada anggur, apel, dan pir impor dari China di pasar. Itu belum sayuran.

Sepanjang tahun 2019, setidaknya kita mengimpor 520,3 ribu ton sayur dari China, senilai US$588 juta, menurut Badan Pusat Statistik. Itu belum termasuk impor bawang putih seberat 465,3 ribu ton. Malah, sepanjang tahun 2019, sumber bawang putih impor kita hanya dari China saja. Nah, bagaimana bisa membuat daftar makanan yang harus dijauhi, sementara China adalah pemasok terbesar untuk buah, sayur, dan bawang putih kita selama ini?

Pemerintah sudah menyatakan buah dan sayur tidak bisa jadi penghantar virus dan tetap aman dikonsumsi. Namun, yang disebut virus kecemasan tadi menyebar dengan lebih cepat dan lebih dipercaya. Dari kecemasan itu, muncul wacana memberdayakan buah dan sayur lokal, ketimbang bergantung impor. Ini hal positif, kendati banyak pekerjaan rumahnya. Satu hal, misalnya, bisakah kita lepas dari ketergantungan impor bawang putih? Kapan kita bisa bikin pertanian modern untuk menghasilkan bawang putih lokal yang rasanya lebih pedas dan mantab ketimbang bawang yang dihasilkan negara empat musim? Petani kita enggan menanam karena harga impor lebih murah. Virus korona harus ditangkal, virus cemas berlebihan mesti dihindarkan, dan virus pangan mandiri justru ditularkan.

Penulis : Hendrika Yunapritta

Managing Editor




TERBARU

Close [X]
×