Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.185
  • SUN95,68 0,05%
  • EMAS667.500 0,15%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Waswas menanti tarif MRT

Senin, 04 Maret 2019 / 15:48 WIB

Waswas menanti tarif MRT

Hasil-hasil penelitian sejauh ini membuktikan, kota yang tertata apik dengan fasilitas transportasi publik baik akan memberi kontribusi positif terhadap kondisi ekonomi dan sosial warganya. Kekeliruan memilih opsi kebijakan kawasan urban bisa berakibat multidimensi, mulai penjalaran kota (sprawling), menjamurnya kendaraan pribadi, hingga emisi karbon tidak terkendali. Tapi bisa pula terjadi sebaliknya, pengelolaan perkotaan yang tepat bisa mewujudkan tata kelola mandiri berbasis transportasi publik.

Kemacetan yang merata di Jakarta mengindikasikan sistem transportasi konvensional berorientasi jalan raya telah gagal memfasilitasi mobilitas warga. Guna mengatasi kemacetan, opsi solusi jangka panjang dengan membangun mode raya terpadu (MRT) adalah sebuah inovasi kebijakan yang cerdik. MRT yang telah direncanakan semenjak dekade 1980-an ini menjadi tonggak sejarah agenda transportasi urban, hasil perpaduan antara inovasi teknologi, kejelian perencanaan, dengan keberanian mengeksekusi kebijakan.

Sistem transportasi massal berbasis rel listrik juga telah terbukti sukses di berbagai kota, seperti Hong Kong dan Singapura. Keberadaan MRT telah memengaruhi perilaku pengguna kendaraan pribadi dan berkontribusi positif terhadap mobilitas warga kota. Memang, tren tata kelola transportasi urban berkisar pada bagaimana memaksimalkan akses transportasi massal, memangkas waktu tempuh, ramah lingkungan, memangkas konsumsi energi per kapita, dan inklusif.

Saat ini, kita tengah waswas menunggu pengumuman besaran tarif tiket MRT yang akan segera dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Mengapa? Karena tarif tiket, di samping akses ke stasiun dan panjang layanan (the size of the network), adalah faktor utama daya tarik penumpang untuk menggunakan MRT.

Setidaknya, ada tiga pertimbangan utama yang perlu dicermati dalam penentuan besaran tarif tiket. Pertama, keterjangkauan harga (affordability). Tarif tiket yang dipatok lebih mahal dari moda transportasi lain seperti bus Transjakarta, akan mengurangi minat penumpang. Alasan utama warga mau menggunakan transportasi publik adalah menghemat waktu dan ongkos. Kendati MRT menawarkan ketepatan waktu, tidak menutup kemungkinan penumpang lebih memilih moda transportasi lain jika merasa tarif yang dipatok terlalu mahal. Ini terjadi pada kereta Bandara Soekarno Hatta (Soetta) yang minim penumpang karena ongkos lebih mahal dari bus Damri.

Moda transportasi lain seperti kendaraan sewa berbasis online juga akan menjadi pesaing yang dominan. Dengan menggunakan MRT, penumpang kadang harus berganti moda transportasi lain untuk sampai ke tempat tujuan akhir. Dengan kendaraan bermotor, baik roda empat ataupun roda dua, penumpang dimanjakan dengan layanan dari pintu ke pintu. Perpindahan dari satu moda ke moda lainnya juga berarti tambahan waktu dan biaya bagi penumpang. Apalagi, seandainya integrasi fasilitas transfer antarmoda belum tersedia pada tahap awal operasional MRT.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0442 || diagnostic_web = 0.4580

Close [X]
×