kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Yuk, Lebih Aware!

oleh Barratut Taqiyyah Rafie - Redaktur Pelaksana


Rabu, 18 Maret 2020 / 11:35 WIB
Yuk, Lebih Aware!
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Virus korona yang muncul pertama kali di kota Wuhan, China, pada akhir Desember lalu menggemparkan dunia. Banyak kabar beredar, penyebaran virus ini tidak hanya menjangkiti melalui tersebarnya droplet yang membawa mikroorganisme (misal dari batuk atau bersin) dari mereka yang terinfeksi kepada mereka yang sehat, melainkan juga melalui sejumlah media lain. Uang, salah satunya.

Uang memang rentan jadi media penyebaran virus karena bisa berpindah tangan puluhan kali satu hari. Yang dikhawatirkan uang itu mengandung droplet tadi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan uang tunai berkontribusi dalam penyebaran virus Covid-19. Virus mampu bertahan pada permukaan uang berhari-hari.

Demi mengantisipasi penyebaran virus via uang, sejumlah negara memberlakukan sejumlah kebijakan. Bank-bank di China, misalnya, sterilisasi uang sebelum memberikannya kepada konsumen. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menurunkan risiko penularan.

Melansir South China Morning Post, seluruh uang tunai yang berasal dari rumah sakit dan daerah infeksi lainnya akan dikirim ke bank sentral. Bahkan, uang tunai yang berpotensi terinfeksi dihancurkan.

Langkah serupa juga dilakukan oleh Korea Selatan. Channelneewsasia memberitakan, Bank of Korea melakukan karantina pada uang kertas selama dua pekan untuk menghilangkan potensi virus korona. uang tersebut kemudian dipanaskan dalam suhu ruangan tinggi, yakni 150 derajat celcius, selama tiga detik sebelum dipindahkan ke tempat penyimpanan dalam suhu ruangan 42 derajat celcius.

Bank sentral Indonesia juga tampak bergerak cepat. Pada Senin (16/3/2020), BI mengumumkan akan mengkarantina uang rupiah selama 14 hari terhadap setoran uang yang diterima dari perbankan. Caranya dengan melakukan proses penyemprotan disinfektan sebelum dilakukan pengolahan dan didistribusikan kembali kepada masyarakat.

Namun, upaya BI tidak cukup sampai di situ. Bank sentral juga harus gencar menggalakkan pembayaran tanpa uang tunai seperti mobile banking atau digital banking di dalam masyarakat. Apalagi, banyak tempat yang tidak menerima metode pembayaran semacam ini.

Di sisi lain, masyarakat juga harus aware atas hal ini. Dalam kondisi rentan seperti sekarang, sebaiknya meminimalkan penggunaan uang tunai. Yang paling penting, rajin-rajin menjaga kebersihan tangan dan tubuh. Yuk kita lebih aware!

Penulis : Barratut Taqiyyah Rafie

Redaktur Pelaksana




Close [X]
×