kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Cukai rokok, Direktur Teknis dan Fasilitas Bea Cukai: Waktunya menaikkan cukai


Senin, 11 Februari 2019 / 17:51 WIB
Cukai rokok, Direktur Teknis dan Fasilitas Bea Cukai: Waktunya menaikkan cukai

Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Mesti Sinaga

KONTAN.CO.ID -  Tepat 1 Januari 2019 mendatang, pemerintah menerapkan tarif cukai baru untuk minuman yang mengandung etil alkohol atau MMEA. Aturan ini tertuang pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 158/PMK.010/2018.

Penyesuaian tarif cukai dalam PMK hanya dilakukan pada MMEA golongan A, dengan kadar alkohol sampai 5%, baik dalam negeri maupun impor.

Kenapa pemerintah menaikkan cukai MMEA ini? Berapa kenaikan cukai untuk MMEA? Kenapa hanya minuman beralkohol golongan A?

Nirwala Dwi Heryanto, Direktur Teknis dan Fasilitas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menjelaskannya kepada wartawan Tabloid Kontan Nina Dwiantika. Berikut nukilannya:

KONTAN: Apa latar belakang dan tujuan pemerintah menaikkan tarif cukai minuman beralkohol?
NIRWALA:
Nah, minuman yang mengandung etil alkohol atau sering disebut minol merupakan barang kena cukai yang konsumsinya harus dikendalikan. Instrumen pengendalian yang dilakukan Kementerian Keuangan adalah dengan pembebanan tarif cukai.

Sistem tarif cukai untuk minol menggunakan sistem spesifik dalam bentuk rupiah per kadar per liter. Kenapa sistem tarif cukai spesifik? Agar efek pengenaan tarifnya efektif, maka harus di-adjust minimal setara dengan inflasi.  

Kami ingin menjelaskan latar belakang pembayaran cukai pada minuman beralkohol. Pertama, konsumsinya perlu dikendalikan.

(Baca juga  tanggapan pengusaha:  Cukai rokok, Executive Committee GIMMI: Ini jadi double shocks bagi industri)

Kedua, peredarannya perlu diawasi. Ketiga, menimbulkan eksternalitas negatif terhadap masyarakat maupun lingkungan. Keempat, perlu ada pungutan negara untuk keadilan dan keseimbangan.

Ini terkadang masyarakat belum paham. Orang bicara cukai itu hanya bicara pungutannya, padahal cukai punya empat fungsi tadi.

Misalnya, minuman yang mengandung etil alkohol atau orang mengenalnya minuman keras itu distribusinya diawasi, jadi tidak sembarangan dijual di toko eceran.

Lalu menimbulkan eksternalitas negatif. Contohnya industri hasil tembakau, orang sering protes bahwa perokok membuat orang lain jadi perokok pasif.

Nah, fungsi keempat ini jarang dibahas, yaitu keadilan dan keseimbangan, karena seringkali kami membagi penerimaan dari  hasil tembakau untuk dikembalikan kepada masyarakat melalui pelayanan kesehatan.

KONTAN: Golongan minuman beralkohol apa saja yang naik?
 




TERBARU

Close [X]
×